• Iklan
  • Policy
  • Shop
  • Podcast
  • Login
Upgrade
Media Data
Thursday, May 7, 2026
  • Home
  • Bisnis
  • Dunia
    • All
    • Info Grafis
    Harga Emas Antam Melonjak Lagi, Tembus Rp2,84 Juta per Gram pada 7 Mei 2026

    Harga Emas Antam Melonjak Lagi, Tembus Rp2,84 Juta per Gram pada 7 Mei 2026

    Bank Raya, AGRO, Bank Raya 2026, bisnis digital bank, kredit digital Bank Raya, laba Bank Raya, bank digital Indonesia, kinerja Bank Raya kuartal I 2026,

    Transformasi Digital Berbuah Manis, Bank Raya Catat Kinerja Positif pada Kuartal I 2026

    Subsidi Motor Listrik Rp5 Juta Mulai Juni 2026, Pemerintah Siapkan 100 Ribu Unit Awal

    Subsidi Motor Listrik Rp5 Juta Mulai Juni 2026, Pemerintah Siapkan 100 Ribu Unit Awal

    Adira Finance Catat Laba Rp484 Miliar, Didorong Efisiensi dan Kualitas Aset

    Adira Finance Catat Laba Rp484 Miliar, Didorong Efisiensi dan Kualitas Aset

    Subsidi Motor Listrik Diminta Tak Sekadar Dongkrak Penjualan, Industri Dalam Negeri Harus Diperkuat

    Subsidi Motor Listrik Diminta Tak Sekadar Dongkrak Penjualan, Industri Dalam Negeri Harus Diperkuat

    Prestasi Global Garuda Indonesia, Jadi Wakil Tunggal RI di Peringkat Dunia

    Prestasi Global Garuda Indonesia, Jadi Wakil Tunggal RI di Peringkat Dunia

    Minyak Mentah Rusia Segera Masuk RI, Bahlil Pastikan Stok Energi Aman di Tengah Geopolitik Global

    Minyak Mentah Rusia Segera Masuk RI, Bahlil Pastikan Stok Energi Aman di Tengah Geopolitik Global

    Waspada! Modus Penipuan 'Paket Hilang' Sasar Pengguna E-commerce, Begini Cara Kerjanya

    Waspada! Modus Penipuan ‘Paket Hilang’ Sasar Pengguna E-commerce, Begini Cara Kerjanya

    Ilustrasi harga emas

    Permintaan Stabil, Harga Emas Diproyeksi Bergerak Moderat Sepanjang 2026

  • EkonomiHijau
  • Investasi
    Desember Ceria? IHSG Dibayangi Peluang "Window Dressing", Cek Deretan Saham Jagoan Analis

    Wall Street “Ngerem” Mendadak, Saham Teknologi Jadi Korban Aksi Ambil Untung

    Ilustrasi IHSG

    IHSG Jeda Siang: Parkir di 8.678, ‘Big Banks’ Masih Jadi Primadona di Tengah Merahnya Asia

    Ilustrasi IHSG

    Reli Akhir Pekan: IHSG Siap Tembus Resisten Baru, Cek Menu Saham Pilihan Hari Ini

    Desember Ceria? IHSG Dibayangi Peluang "Window Dressing", Cek Deretan Saham Jagoan Analis

    Desember Ceria? IHSG Dibayangi Peluang “Window Dressing”, Cek Deretan Saham Jagoan Analis

    Ilustrasi Bak BRI

    Saham ANTM dan BMRI Alami Net Sell Asing Terbesar Pekan Ini

    Flatlay of an iPad displaying stock market graph on a wooden desk with a pencil and paper.

    IHSG Tertahan di Level 8.370 pada Jumat (14/11), NCKL, SCMA, KLBF Jadi Top Losers LQ45

    Ilustrasi Pertumbuhan IHSG

    IHSG Menguat Tipis ke 8.398 Pagi Ini (13/11), PGAS, BRPT, DSSA Jadi Top Gainers LQ45

    stock trading, investing, stock market, forex, finance, money, crypto, bitcoin, shiba, station, stock market, stock market, stock market, stock market, stock market, forex, forex, forex, crypto, crypto

    IHSG Melonjak ke 8.447 pada Awal Sesi Senin (11/11), MBMA, BUMI, TLKM Jadi Pemimpin Penguatan

    Ilustrasi Wallstreet

    IHSG Dibuka Naik ke Level 8.447 pada Senin (10/11), Didukung Sentimen Akhir Shutdown AS

    Trending Tags

    • Saham
    • saham blue chip
    • Harga Saham
    • investasi saham
    • investor saham bank
  • Opini
  • Tech AIHot
  • Nasional
    Menkeu Purbaya Ungkap Dana Pemerintah “Ngendon” di Deposito hingga Rp 285,6 Triliun

    Berangkat Haji Mei 2026, Menkeu Purbaya Doa untuk Ekonomi Nasional

    Harga BBM Non-Subsidi Pertamina Naik per 4 Mei 2026, Pertamina Dex Tembus Rp27.900 per Liter

    Harga BBM Non-Subsidi Pertamina Naik per 4 Mei 2026, Pertamina Dex Tembus Rp27.900 per Liter

    Subsidi Motor Listrik Diminta Tak Sekadar Dongkrak Penjualan, Industri Dalam Negeri Harus Diperkuat

    Subsidi Motor Listrik Diminta Tak Sekadar Dongkrak Penjualan, Industri Dalam Negeri Harus Diperkuat

    Prestasi Global Garuda Indonesia, Jadi Wakil Tunggal RI di Peringkat Dunia

    Prestasi Global Garuda Indonesia, Jadi Wakil Tunggal RI di Peringkat Dunia

    Minyak Mentah Rusia Segera Masuk RI, Bahlil Pastikan Stok Energi Aman di Tengah Geopolitik Global

    Minyak Mentah Rusia Segera Masuk RI, Bahlil Pastikan Stok Energi Aman di Tengah Geopolitik Global

    ASEAN Kompak Jaga Pasokan Energi di Tengah Ketegangan Iran-AS

    ASEAN Kompak Jaga Pasokan Energi di Tengah Ketegangan Iran-AS

    BGN Ajak Kampus Kelola Dapur Makan Bergizi Gratis: Jadi Laboratorium Hidup dan Penyerap Produk Lokal

    BGN Ajak Kampus Kelola Dapur Makan Bergizi Gratis: Jadi Laboratorium Hidup dan Penyerap Produk Lokal

    Pengasuhan anak di luar negeri, Pixels

    Aturan Daycare di Negara Maju Jadi Sorotan, Indonesia Didorong Perkuat Standar

    Buruh Siap Desak UU Ketenagakerjaan Baru dan Perlindungan Gig Worker di Hari Buruh

    Buruh Siap Desak UU Ketenagakerjaan Baru dan Perlindungan Gig Worker di Hari Buruh

    Trending Tags

    • ekonomi
    • Ekonomi Syari'ah
    • indikator ekonomi
    • ekonomi indonesia
    • perekonomian indonesia
No Result
View All Result
  • Home
  • Bisnis
  • Dunia
    • All
    • Info Grafis
    Harga Emas Antam Melonjak Lagi, Tembus Rp2,84 Juta per Gram pada 7 Mei 2026

    Harga Emas Antam Melonjak Lagi, Tembus Rp2,84 Juta per Gram pada 7 Mei 2026

    Bank Raya, AGRO, Bank Raya 2026, bisnis digital bank, kredit digital Bank Raya, laba Bank Raya, bank digital Indonesia, kinerja Bank Raya kuartal I 2026,

    Transformasi Digital Berbuah Manis, Bank Raya Catat Kinerja Positif pada Kuartal I 2026

    Subsidi Motor Listrik Rp5 Juta Mulai Juni 2026, Pemerintah Siapkan 100 Ribu Unit Awal

    Subsidi Motor Listrik Rp5 Juta Mulai Juni 2026, Pemerintah Siapkan 100 Ribu Unit Awal

    Adira Finance Catat Laba Rp484 Miliar, Didorong Efisiensi dan Kualitas Aset

    Adira Finance Catat Laba Rp484 Miliar, Didorong Efisiensi dan Kualitas Aset

    Subsidi Motor Listrik Diminta Tak Sekadar Dongkrak Penjualan, Industri Dalam Negeri Harus Diperkuat

    Subsidi Motor Listrik Diminta Tak Sekadar Dongkrak Penjualan, Industri Dalam Negeri Harus Diperkuat

    Prestasi Global Garuda Indonesia, Jadi Wakil Tunggal RI di Peringkat Dunia

    Prestasi Global Garuda Indonesia, Jadi Wakil Tunggal RI di Peringkat Dunia

    Minyak Mentah Rusia Segera Masuk RI, Bahlil Pastikan Stok Energi Aman di Tengah Geopolitik Global

    Minyak Mentah Rusia Segera Masuk RI, Bahlil Pastikan Stok Energi Aman di Tengah Geopolitik Global

    Waspada! Modus Penipuan 'Paket Hilang' Sasar Pengguna E-commerce, Begini Cara Kerjanya

    Waspada! Modus Penipuan ‘Paket Hilang’ Sasar Pengguna E-commerce, Begini Cara Kerjanya

    Ilustrasi harga emas

    Permintaan Stabil, Harga Emas Diproyeksi Bergerak Moderat Sepanjang 2026

  • EkonomiHijau
  • Investasi
    Desember Ceria? IHSG Dibayangi Peluang "Window Dressing", Cek Deretan Saham Jagoan Analis

    Wall Street “Ngerem” Mendadak, Saham Teknologi Jadi Korban Aksi Ambil Untung

    Ilustrasi IHSG

    IHSG Jeda Siang: Parkir di 8.678, ‘Big Banks’ Masih Jadi Primadona di Tengah Merahnya Asia

    Ilustrasi IHSG

    Reli Akhir Pekan: IHSG Siap Tembus Resisten Baru, Cek Menu Saham Pilihan Hari Ini

    Desember Ceria? IHSG Dibayangi Peluang "Window Dressing", Cek Deretan Saham Jagoan Analis

    Desember Ceria? IHSG Dibayangi Peluang “Window Dressing”, Cek Deretan Saham Jagoan Analis

    Ilustrasi Bak BRI

    Saham ANTM dan BMRI Alami Net Sell Asing Terbesar Pekan Ini

    Flatlay of an iPad displaying stock market graph on a wooden desk with a pencil and paper.

    IHSG Tertahan di Level 8.370 pada Jumat (14/11), NCKL, SCMA, KLBF Jadi Top Losers LQ45

    Ilustrasi Pertumbuhan IHSG

    IHSG Menguat Tipis ke 8.398 Pagi Ini (13/11), PGAS, BRPT, DSSA Jadi Top Gainers LQ45

    stock trading, investing, stock market, forex, finance, money, crypto, bitcoin, shiba, station, stock market, stock market, stock market, stock market, stock market, forex, forex, forex, crypto, crypto

    IHSG Melonjak ke 8.447 pada Awal Sesi Senin (11/11), MBMA, BUMI, TLKM Jadi Pemimpin Penguatan

    Ilustrasi Wallstreet

    IHSG Dibuka Naik ke Level 8.447 pada Senin (10/11), Didukung Sentimen Akhir Shutdown AS

    Trending Tags

    • Saham
    • saham blue chip
    • Harga Saham
    • investasi saham
    • investor saham bank
  • Opini
  • Tech AIHot
  • Nasional
    Menkeu Purbaya Ungkap Dana Pemerintah “Ngendon” di Deposito hingga Rp 285,6 Triliun

    Berangkat Haji Mei 2026, Menkeu Purbaya Doa untuk Ekonomi Nasional

    Harga BBM Non-Subsidi Pertamina Naik per 4 Mei 2026, Pertamina Dex Tembus Rp27.900 per Liter

    Harga BBM Non-Subsidi Pertamina Naik per 4 Mei 2026, Pertamina Dex Tembus Rp27.900 per Liter

    Subsidi Motor Listrik Diminta Tak Sekadar Dongkrak Penjualan, Industri Dalam Negeri Harus Diperkuat

    Subsidi Motor Listrik Diminta Tak Sekadar Dongkrak Penjualan, Industri Dalam Negeri Harus Diperkuat

    Prestasi Global Garuda Indonesia, Jadi Wakil Tunggal RI di Peringkat Dunia

    Prestasi Global Garuda Indonesia, Jadi Wakil Tunggal RI di Peringkat Dunia

    Minyak Mentah Rusia Segera Masuk RI, Bahlil Pastikan Stok Energi Aman di Tengah Geopolitik Global

    Minyak Mentah Rusia Segera Masuk RI, Bahlil Pastikan Stok Energi Aman di Tengah Geopolitik Global

    ASEAN Kompak Jaga Pasokan Energi di Tengah Ketegangan Iran-AS

    ASEAN Kompak Jaga Pasokan Energi di Tengah Ketegangan Iran-AS

    BGN Ajak Kampus Kelola Dapur Makan Bergizi Gratis: Jadi Laboratorium Hidup dan Penyerap Produk Lokal

    BGN Ajak Kampus Kelola Dapur Makan Bergizi Gratis: Jadi Laboratorium Hidup dan Penyerap Produk Lokal

    Pengasuhan anak di luar negeri, Pixels

    Aturan Daycare di Negara Maju Jadi Sorotan, Indonesia Didorong Perkuat Standar

    Buruh Siap Desak UU Ketenagakerjaan Baru dan Perlindungan Gig Worker di Hari Buruh

    Buruh Siap Desak UU Ketenagakerjaan Baru dan Perlindungan Gig Worker di Hari Buruh

    Trending Tags

    • ekonomi
    • Ekonomi Syari'ah
    • indikator ekonomi
    • ekonomi indonesia
    • perekonomian indonesia
No Result
View All Result
Media Data
No Result
View All Result
Home Opini

Diplomasi “Paru-Paru Dunia” di Tengah Kepungan Air Bah: Sebuah Paradoks Ambisi dan Realitas

Redaksi by Redaksi
December 2, 2025
in Opini
0
Donate
0
Muhammad Haikal

Photo Dokumen Pribadi

583
SHARES
1.1k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterRingkasan

Oleh: Muhammad Haykal, B.A., M.A*

Di panggung internasional, Indonesia sedang menari dengan anggun. Bersama Brasil, kita tengah merajut sebuah aliansi strategis yang digadang-gadang akan mengubah peta politik iklim global. Narasi yang dibangun sangat memukau: dua negara pemilik hutan hujan tropis terbesar di dunia bersatu untuk menjadi Climate Superpower. Istilah “OPEC-nya Hutan Hujan” mulai didengungkan, menjanjikan posisi tawar yang kuat dalam pasar karbon dan negosiasi lingkungan global. Sebagaimana diulas dalam analisis Katadata baru-baru ini, kolaborasi ini adalah peluang emas untuk menjaga “paru-paru dunia” sekaligus mendatangkan keuntungan ekonomi melalui mekanisme perdagangan karbon yang adil.

Namun, ketika kita mengalihkan pandangan dari ruang sidang ber-AC di Rio de Janeiro atau Jakarta ke wilayah barat Indonesia, pemandangan yang tersaji sangat kontras dan menyayat hati. “Paru-paru dunia” yang kita banggakan itu sedang batuk darah. Sejak akhir November 2025, Sumatera-khususnya Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat-dilanda bencana hidrometeorologi dahsyat. Banjir bandang menyapu permukiman, tanah longsor memutus nadi logistik, dan infrastruktur vital lumpuh total.

Artikel ini bertujuan untuk membedah paradoks tersebut secara mendalam. Bagaimana kita bisa mendamaikan ambisi global Indonesia sebagai penjaga iklim dengan kegagalan domestik dalam mitigasi bencana ekologis? Apakah kolaborasi dengan Brasil hanya akan menjadi etalase diplomatik, atau bisakah ia menjadi momentum untuk menata ulang tata kelola hutan kita yang sedang sekarat?

Aliansi Dua Raksasa-Mimpi Besar di Panggung Global

Tidak dapat dipungkiri, langkah Indonesia merangkul Brasil adalah manuver geopolitik yang cerdas. Secara statistik, kedua negara ini memegang kunci stabilitas iklim planet bumi. Hutan Amazon di Brasil dan hutan hujan tropis di Kalimantan, Papua, serta Sumatera di Indonesia adalah penyerap karbon (carbon sink) alamiah terbesar yang tersisa.

Dalam konteks analisis Katadata, peluang kolaborasi ini mencakup tiga aspek strategis:

  1. Dominasi Pasar Karbon: Selama ini, harga kredit karbon seringkali didikte oleh negara-negara maju (Global North) dengan harga yang sangat murah, seolah-olah fungsi hutan hanyalah komoditas pelengkap. Dengan bersatu, Indonesia dan Brasil memiliki leverage untuk menetapkan standar harga dasar karbon yang lebih tinggi dan adil. Ini adalah logika kartel yang positif; jika Anda menguasai suplai (dalam hal ini, jasa lingkungan penyerapan karbon), Anda berhak menentukan harga.
  2. Posisi Tawar Melawan Tekanan Dagang: Kedua negara menghadapi tantangan serupa terkait regulasi lingkungan yang diterapkan oleh Uni Eropa, seperti EUDR (European Union Deforestation Regulation). Regulasi ini sering dianggap sebagai hambatan non-tarif bagi komoditas unggulan seperti sawit, kopi, dan kedelai. Dengan satu suara, Indonesia dan Brasil bisa menuntut transparansi dan keadilan, memastikan bahwa standar keberlanjutan tidak menjadi alat proteksionisme terselubung.
  3. Pertukaran Teknologi dan Konservasi: Brasil memiliki pengalaman panjang (dengan segala pasang surutnya) dalam pemantauan hutan berbasis satelit melalui INPE (National Institute for Space Research). Indonesia, di sisi lain, memiliki keunggulan dalam tata kelola lahan gambut. Kolaborasi teknis ini menjanjikan lonjakan kapasitas dalam memantau kesehatan hutan secara real-time.

Di atas kertas, aliansi ini sempurna. Indonesia memposisikan dirinya bukan lagi sebagai objek bantuan iklim, melainkan sebagai subjek penentu kebijakan iklim. Namun, legitimasi moral dan operasional dari status “Climate Superpower” ini diuji bukan di meja perundingan PBB, melainkan di lapangan, di mana rakyat berhadapan langsung dengan konsekuensi pengelolaan alam.

Realitas Kelam di Halaman Belakang-Sumatera Tenggelam

Saat para diplomat berbicara tentang masa depan, warga di Aceh, Sumut, dan Sumbar sedang bertarung nyawa demi hari ini. Bencana banjir yang terjadi di penghujung tahun 2025 ini bukanlah anomali cuaca biasa. Intensitas hujan memang tinggi-sebuah dampak nyata dari perubahan iklim global-namun dampak destruktifnya diperparah oleh degradasi daya dukung lingkungan yang akut.

Mari kita lihat faktanya. Aceh, yang memiliki Ekosistem Leuser sebagai salah satu benteng terakhir biodiversitas dunia, mengalami kelumpuhan infrastruktur yang masif. Laporan terbaru menyebutkan bahwa pasokan listrik terganggu hingga tujuh hari karena gardu induk dan jalur distribusi hancur diterjang banjir. Logistik seberat puluhan ton harus dikirim menggunakan helikopter karena jalan darat putus total. Ini adalah gambaran sebuah wilayah yang kehilangan daya lenting (resilience) ekologisnya.

Banjir ini adalah pesan alam bahwa “paru-paru” tersebut sedang sakit. Hutan di pegunungan Bukit Barisan, yang seharusnya berfungsi sebagai spons raksasa penyerap air hujan, telah kehilangan kemampuannya. Alih fungsi lahan untuk pertambangan ilegal, perambahan hutan untuk perkebunan monokultur, dan pembangunan infrastruktur yang menabrak zona merah konservasi telah menciptakan “jalan tol” bagi air bah untuk meluncur bebas ke permukiman penduduk.

Ironi ini semakin tajam jika kita menyandingkan narasi diplomasi dengan data bencana. Kita “menjual” jasa hutan kita ke dunia internasional sebagai penyerap emisi global, tetapi di tingkat lokal, hutan tersebut gagal memberikan jasa lingkungan paling dasar: melindungi rakyat dari bencana hidrometeorologi.

Ekonomi Hijau vs Ekonomi Bencana

Salah satu poin krusial dalam diskusi Indonesia-Brasil adalah tentang Green Economy. Namun, bencana Sumatera memberikan pelajaran brutal tentang Disaster Economics.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh menunjukkan bahwa pada Oktober 2025, neraca perdagangan Aceh mengalami defisit USD 11,57 juta. Ekspor turun, impor melonjak. Mengapa? Salah satu faktor utamanya adalah terganggunya rantai pasok akibat kerusakan infrastruktur. Ketika jalan putus dan jembatan roboh, komoditas CPO dan kopi tidak bisa mencapai pelabuhan. Biaya logistik meroket, dan inflasi pangan mengancam.

Di sinilah letak kegagalan kalkulasi kita selama ini. Seringkali, pemerintah daerah dan pusat tergiur oleh pendapatan jangka pendek dari eksploitasi hutan (PAD dari tambang, pajak sawit, dll). Namun, mereka lupa memasukkan “Biaya Bencana” ke dalam neraca ekonomi tersebut.

Berapa triliun rupiah yang harus dikucurkan negara untuk memperbaiki jalan Trans-Sumatera yang longsor? Berapa kerugian PLN akibat gardu yang rusak? Berapa kerugian produktivitas masyarakat yang listriknya mati selama sepekan? Berapa biaya kesehatan akibat wabah penyakit pasca-banjir?

Jika dikalkulasi secara jujur, biaya pemulihan bencana ini kemungkinan besar jauh melampaui pendapatan yang didapat dari aktivitas ekstraktif yang merusak hutan tersebut.

Kolaborasi Indonesia-Brasil seharusnya membuka mata para pembuat kebijakan tentang valuasi ekonomi hutan yang sesungguhnya. Hutan bukan hanya aset karbon yang bisa dijual kreditnya. Hutan adalah infrastruktur mitigasi bencana termurah dan paling efektif. Menjaga Leuser tetap utuh, misalnya, secara ekonomi lebih menguntungkan dalam jangka panjang karena mencegah kerugian triliunan rupiah akibat banjir, dibandingkan mengonversinya menjadi lahan tambang yang keuntungannya hanya dinikmati segelintir elit namun risikonya ditanggung seluruh rakyat.

Lessons dari Brasil, Mengaca pada Diri Sendiri

You might also like

Pinjaman Online, Rakyat Kecil, dan Solusi Keuangan Islam

Revolusi Pendidikan Hukum dari Buku ke Realitas: Sebuah Rasa Sebagai Pendidik

Dialektika Bank Syariah: Antara Kompromi Sistem dan Purifikasi Syariah

Apa yang bisa dipelajari Indonesia dari Brasil dalam konteks bencana ini? Brasil, di bawah kepemimpinan Presiden Lula da Silva, telah melakukan comeback yang kuat dalam kebijakan lingkungan setelah masa kelam di era Jair Bolsonaro di mana deforestasi Amazon mencapai rekor tertinggi.

Pelajaran pertama adalah Penegakan Hukum Tanpa Pandang Bulu. Brasil mengaktifkan kembali polisi lingkungan federal dan militer untuk menindak pembalakan liar dan penambangan emas ilegal di Amazon. Mereka menggunakan citra satelit untuk mendeteksi pembukaan lahan baru dalam hitungan jam dan mengirim tim intervensi segera.

Di Sumatera, kita sering melihat pola pembiaran. Tambang ilegal (PETI) beroperasi terang-terangan di hulu sungai. Perambahan hutan lindung untuk kebun sayur atau sawit seringkali didiamkan atas nama “ekonomi rakyat” atau dibekingi oleh oknum aparat. Jika Indonesia ingin serius bermitra dengan Brasil, kita harus mengadopsi ketegasan penegakan hukum ini. Tanpa law enforcement yang kuat, komitmen iklim hanyalah macan kertas.

Pelajaran kedua adalah Pengakuan Hak Masyarakat Adat. Hutan Amazon yang paling terjaga adalah wilayah yang dikelola oleh masyarakat adat. Di Indonesia, pengakuan Hutan Adat masih berjalan lambat. Padahal, kearifan lokal masyarakat di sekitar Leuser atau Danau Toba seringkali lebih efektif menjaga keseimbangan alam daripada regulasi negara yang kaku namun koruptif.

Sebaliknya, Brasil juga bisa belajar dari Indonesia mengenai manajemen gambut dan restorasi mangrove. Kerjasama ini haruslah menjadi transfer of knowledge yang jujur, di mana kedua negara mengakui kelemahan domestiknya masing-masing dan berkomitmen untuk memperbaikinya, bukan sekadar aliansi dagang untuk melawan Uni Eropa.

Urgensi Penetapan Status Bencana dan Koreksi Kebijakan

Kembali ke konteks banjir Sumatera. Perdebatan mengenai status “Bencana Nasional” vs “Bencana Daerah” yang kini mengemuka menunjukkan betapa birokratisnya cara pandang kita terhadap krisis. BNPB berargumen bahwa pemerintahan daerah belum lumpuh total, sehingga status nasional tidak diperlukan.

Argumen ini berbahaya. Dalam perspektif perubahan iklim—isu yang menjadi inti kerjasama Indonesia-Brasil—bencana hari ini tidak bisa lagi diukur dengan parameter konvensional 20 tahun lalu. Eskalasi dampaknya eksponensial. Ketika tiga provinsi lumpuh sekaligus, ketika listrik padam massal, dan ketika dokter anak (IDAI) berteriak bahwa layanan kesehatan kolaps, itu adalah tanda bahwa kapasitas daerah sudah terlampaui.

Menolak menaikkan status bencana dengan alasan administratif, sementara di saat yang sama kita berpidato di forum global tentang kepemimpinan iklim, adalah sebuah disonansi kognitif. Negara harus hadir secara total. Dana Siap Pakai (DSP) harus dikucurkan tanpa hambatan birokrasi.

Lebih jauh lagi, momentum bencana ini harus menjadi titik balik (turning point) bagi kebijakan tata ruang di Sumatera. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Aceh dan Sumut harus diaudit total. Izin-izin konsesi yang berada di zona rawan bencana atau hulu daerah aliran sungai (DAS) harus dicabut atau dievaluasi ulang.

Program “Rehabilitasi Hutan dan Lahan” tidak boleh lagi sekadar proyek menanam bibit yang kemudian mati ditinggal pergi. Ia harus menjadi gerakan semesta yang melibatkan masyarakat lokal dengan insentif ekonomi yang nyata—mungkin didanai dari skema perdagangan karbon yang sedang dirancang bersama Brasil.

Menuju “Climate Superpower” yang Otentik

Indonesia memiliki potensi besar untuk memimpin dunia dalam isu iklim. Aliansi dengan Brasil adalah langkah awal yang brilian. Namun, predikat Climate Superpower bukanlah sebuah hadiah; ia adalah sebuah beban tanggung jawab.

Tanggung jawab itu bukan kepada PBB, bukan kepada pembeli kredit karbon di Eropa, melainkan kepada rakyat Indonesia sendiri. Kepada anak-anak di Aceh Utara yang sekolahnya terendam lumpur, kepada petani di Tanah Datar yang sawahnya hilang disapu lahar dingin, dan kepada warga Medan yang rumahnya menjadi langganan banjir tahunan.

Jika kita gagal melindungi mereka, maka diplomasi “paru-paru dunia” ini tak lebih dari sebuah greenwashing raksasa tingkat negara. Kita seolah-olah menjadi pahlawan bagi penduduk bumi di belahan lain dengan menyerap karbon mereka, sementara membiarkan penduduk kita sendiri tenggelam karena kerusakan ekosistem yang sama.

Kolaborasi Indonesia-Brasil harus dimaknai ulang. Bukan sekadar tentang berapa Dollar yang bisa kita dapat dari hutan kita, tapi tentang bagaimana kita menggunakan kekuatan politik dan ekonomi dari aliansi tersebut untuk membiayai pemulihan ekologis di dalam negeri.

Kita butuh dana, teknologi, dan kemauan politik untuk melakukan reforestasi masif, membersihkan sungai, menindak mafia tanah, dan membangun infrastruktur yang tahan iklim. Jika hasil dari kerjasama dengan Brasil bisa diarahkan ke sana, maka barulah kita pantas disebut sebagai raksasa iklim.

Jangan Sampai Paru-Paru Itu Bocor Permanen

Banjir di Sumatera adalah alarm nyaring yang membangunkan kita dari mimpi indah diplomasi tingkat tinggi. Ia mengingatkan kita bahwa alam tidak bisa diajak bernegosiasi dengan MoU atau pidato kenegaraan. Alam bekerja dengan hukum fisika dan biologi: jika kau rusak daya dukungnya, ia akan mencari keseimbangan baru, seringkali melalui cara yang destruktif bagi manusia.

Mari kita dukung penuh kolaborasi Indonesia-Brasil ini, namun dengan catatan kaki yang tebal: Perbaiki dulu rumah sendiri. Jadikan perlindungan terhadap Leuser dan Bukit Barisan sebagai prioritas keamanan nasional, setara dengan prioritas pertahanan militer. Karena pada akhirnya, ancaman terbesar bagi kedaulatan kita hari ini bukanlah invasi militer asing, melainkan krisis ekologis yang mampu melumpuhkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara dalam hitungan hari.

Tanpa hutan yang sehat di Sumatera, Kalimantan, dan Papua, Indonesia tidak akan menjadi Climate Superpower. Kita hanya akan menjadi negara kepulauan yang rapuh, yang terus-menerus sibuk mengurusi tanggap darurat, menghitung kerugian, dan mengubur korban jiwa, sementara dunia luar bertepuk tangan atas pidato kita yang indah tentang masa depan bumi yang hijau.

Sudah saatnya diplomasi iklim kita menjejak bumi. Dari Rio de Janeiro, kembali ke tepian Krueng Aceh dan Sungai Deli. Di sanalah pertaruhan yang sesungguhnya berada.

*Penulis : Alumni Marmara University, Istanbul dan Ketua Yayasan Tarara Global Humanity

Tags: Banjir Sumut dan AcehBrasilHutan TropisIndonesia

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
Previous Post

Desember Ceria? IHSG Dibayangi Peluang “Window Dressing”, Cek Deretan Saham Jagoan Analis

Next Post

Bencana Ekologis “Buatan”? PPATK Didesak Telusuri Rekening Pejabat Kehutanan & Perizinan Aceh

Redaksi

Redaksi

Rumoh Data adalah platform yang menyajikan berita dan wawasan berbasis data dengan pendekatan kreatif dan transformatif.

Related Posts

Masa Depan Investasi Hijau di Indonesia: Tantangan, Peluang, dan Strategi Transformasi Menuju Pembangunan Berkelanjutan
Islamic Finance

Pinjaman Online, Rakyat Kecil, dan Solusi Keuangan Islam

by Redaksi
September 10, 2025
0

Oleh: Muhammad Jais, S.E., M.Sc.IBF* Fenomena pinjaman online (pinjol) kian hari semakin menjadi sorotan publik. Di satu sisi, pinjol hadir...

Opini

Revolusi Pendidikan Hukum dari Buku ke Realitas: Sebuah Rasa Sebagai Pendidik

by Redaksi
September 3, 2025
0

Oleh: Tgk. Muhammad Razi Calok* Dalam ranah pendidikan tinggi hukum di Indonesia, skripsi konvensional dengan pendekatan normatif telah lama menjadi...

Masa Depan Investasi Hijau di Indonesia: Tantangan, Peluang, dan Strategi Transformasi Menuju Pembangunan Berkelanjutan

Dialektika Bank Syariah: Antara Kompromi Sistem dan Purifikasi Syariah

August 25, 2025

Dua Dekade Otonomi Khusus Aceh: Antara Harapan Kesejahteraan dan Tantangan Implementasi

August 22, 2025
Masa Depan Investasi Hijau di Indonesia: Tantangan, Peluang, dan Strategi Transformasi Menuju Pembangunan Berkelanjutan

Ekonomi Syariah Indonesia: Dari Raksasa yang Tertidur Menuju Pilar Pembangunan Berkelanjutan

August 21, 2025
Next Post
Bencana Ekologis “Buatan”? PPATK Didesak Telusuri Rekening Pejabat Kehutanan & Perizinan Aceh

Bencana Ekologis "Buatan"? PPATK Didesak Telusuri Rekening Pejabat Kehutanan & Perizinan Aceh

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Premium Content

Dosen UBBG Ciptakan Formula Biskuit Tepung Pisang Kepok untuk Makanan Bayi

Dosen UBBG Ciptakan Formula Biskuit Tepung Pisang Kepok untuk Makanan Bayi

August 30, 2025
Akademisi: Penanganan Tambang Ilegal di Aceh Harus Libatkan Pemerintah Pusat

Akademisi: Penanganan Tambang Ilegal di Aceh Harus Libatkan Pemerintah Pusat

October 1, 2025
Saham Bank Tertekan Usai Sejumlah Emiten Terdepak dari Indeks Unggulan BEI

Saham Bank Tertekan Usai Sejumlah Emiten Terdepak dari Indeks Unggulan BEI

October 29, 2025
ADVERTISEMENT
Media Data

Rumoh Data adalah platform yang menyajikan berita dan wawasan berbasis data dengan pendekatan kreatif dan transformatif.

Categories

  • Academy
  • Aceh
  • Analisis
  • Apps
  • Bisnis
  • Cerita Data
  • Data Otomotif
  • Editorial
  • Editorial Data
  • Ekonomi
  • Ekonomi Syari'ah
  • IHSG
  • Info Grafis
  • International
  • Investasi
  • Islamic Finance
  • Keuangan
  • Nasional
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Reviews
  • Technology
  • The Dialogue

Recent Posts

  • Berangkat Haji Mei 2026, Menkeu Purbaya Doa untuk Ekonomi Nasional
  • OJK: Perbankan Indonesia Tetap Tumbuh Positif di Tengah Gejolak Global
  • Harga Emas Antam Melonjak Lagi, Tembus Rp2,84 Juta per Gram pada 7 Mei 2026

There was an error trying to submit your form. Please try again.

This field is required.

There was an error trying to submit your form. Please try again.

© 2026 Rumohdata

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Bisnis
  • Nasional
  • Ekonomi
  • International
  • Investasi
  • IHSG
  • Analisis
  • Academy
  • Opini
  • Login
  • Cart
Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?