Oleh: Tgk. Faisal Kuba*
Suatu malam, di sebuah rumah yang terang oleh lampu namun redup oleh percakapan, seorang ayah memanggil anaknya untuk makan malam. Panggilan itu terdengar, tetapi tidak segera dijawab. Sang anak sedang menunduk menatap layar kecil di tangannya. Jarinya bergerak cepat, matanya terpaku, pikirannya berkelana entah ke mana. Di hadapannya tersaji ribuan wajah yang tidak dikenalnya, jutaan kata yang tidak pernah dimintanya, dan berbagai nilai yang tidak pernah diajarkan oleh keluarganya.
Pemandangan seperti itu bukan lagi sesuatu yang istimewa. Ia telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kita. Di ruang tamu, di kamar tidur, di ruang tunggu, bahkan di meja makan, layar handphone atau apapun merek gadget itu telah menjadi teman yang paling setia. Ia tidak pernah tidur, tidak pernah lelah, dan selalu siap menemani. Namun di balik kesetiaannya itu, ada sebuah pertanyaan yang jarang kita ajukan: siapakah sebenarnya yang sedang mendidik anak-anak kita?
Selama berabad-abad, manusia memahami bahwa pendidikan bermula dari keluarga. Seorang anak belajar berbicara dari ibunya, belajar tanggung jawab dari ayahnya, belajar sopan santun dari lingkungan sekitarnya, dan belajar nilai-nilai kehidupan dari guru-gurunya. Pendidikan bukan sekadar proses mengisi kepala dengan pengetahuan, melainkan proses membentuk jiwa dengan keteladanan.
Karena itu, Al-Qur’an mengingatkan, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” Ayat ini mengandung pesan yang jauh melampaui urusan materi. Menjaga keluarga berarti menjaga iman, akhlak, dan arah kehidupan mereka. Rumah bukan sekadar tempat berteduh, melainkan madrasah pertama tempat karakter dibentuk.
Namun hari ini, perlahan-lahan, sebagian peran itu hilang dan berpindah tangan.
Bukan kepada guru yang lebih bijaksana. Bukan pula kepada orang tua yang lebih berpengalaman. Melainkan kepada sesuatu yang bahkan tidak memiliki hati: Algoritma.
Algoritma adalah mesin yang mengatur apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, dan apa yang terus muncul di hadapan kita ketika berselancar di dunia digital. Ia bekerja dengan sangat cerdas. Ia mempelajari kebiasaan manusia, membaca kecenderungannya, lalu menyajikan konten yang membuatnya bertahan selama mungkin di depan layar.
Masalahnya, algoritma tidak mengenal adab.
Ia tidak tahu mana yang bermartabat dan mana yang memalukan; Ia tidak memahami batas antara kebebasan dan kebejatan. Ia tidak mengenal rasa malu, kehormatan keluarga, ataupun keberkahan hidup. Yang ia pahami hanyalah satu hal: perhatian.
Karena itu, apa yang paling memancing perhatian akan lebih sering dimunculkan. Sensasi mengalahkan substansi. Keributan mengalahkan kebijaksanaan. Kemarahan mengalahkan kesabaran. Pamer kemewahan mengalahkan kesederhanaan. Bahkan sering kali keburukan lebih cepat menjadi tontonan daripada kebaikan.
Di sinilah persoalan besar zaman kita bermula.
Banyak orang tua masih merasa bahwa mereka sedang membesarkan anak-anaknya. Banyak guru masih yakin bahwa mereka sedang mendidik murid-muridnya. Namun tanpa disadari, ada “guru lain” yang bekerja dua puluh empat jam sehari, tanpa libur, tanpa henti, dan masuk ke dalam kamar-kamar pribadi tanpa perlu mengetuk pintu.
Guru itu bernama algoritma.
Ia menemani anak-anak sebelum tidur dan menyambut mereka ketika bangun pagi. Ia berbicara lebih sering daripada ayah dan ibu. Ia hadir lebih lama daripada guru di sekolah. Ia menjadi sumber hiburan, sumber informasi, bahkan perlahan menjadi sumber nilai.
Padahal masyarakat Aceh telah lama mewariskan sebuah falsafah pendidikan yang sederhana, dijadikan syair dan bahkan dinyanyikan saat anak kecil dinina-bobokan oleh orangtuanya, pesan yang sangat dalam maknanya:
Poma dengon ayah, keu lhee dengon guree, ureung nyan ban lhee meubek ta dhot-dhot, menyoe na salah, meuah talakee peu-meuyub ulee ta com bak teuot.
Ibu, ayah, dan guru adalah orang-orang yang harus dihormati. Jika bersalah kepada mereka, segeralah meminta maaf sebelum penyesalan datang kemudian.
Di balik ungkapan yang sederhana ini tersimpan pandangan hidup yang agung. Orang Aceh tidak meletakkan pendidikan hanya pada bangunan sekolah, tetapi pada hubungan yang sakral antara anak, orang tua, dan guru. Ketiganya adalah pilar yang membentuk akhlak dan kepribadian manusia.
Pertanyaannya, bagaimana nasib falsafah itu ketika sebagian besar waktu anak-anak dihabiskan bersama layar? Kepada siapa mereka belajar hormat ketika figur yang paling sering hadir di hadapan mereka bukan lagi ayah, ibu, dan guru, melainkan wajah-wajah asing yang muncul silih berganti melalui algoritma? Kepada siapa mereka belajar rendah hati ketika budaya digital lebih sering mengajarkan pembenaran diri daripada keberanian mengakui kesalahan?
Rasulullah SAW pernah mengingatkan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, lalu lingkunganlah yang membentuk arah kehidupannya. Hadis ini menjadi semakin relevan pada zaman sekarang. Jika dahulu lingkungan itu adalah rumah, surau, dayah, sekolah, dan masyarakat sekitar, maka hari ini lingkungan itu telah meluas hingga masuk ke dalam genggaman tangan.
Inilah wajah baru liberalisasi informasi.
Di satu sisi, ia menghadirkan manfaat yang luar biasa. Pengetahuan dapat diakses dalam hitungan detik. Jarak menjadi tidak berarti. Kesempatan belajar terbuka lebih luas daripada sebelumnya. Namun di sisi lain, arus informasi yang tidak terkendali juga membawa nilai-nilai yang tidak selalu sejalan dengan agama, budaya, dan moralitas masyarakat.
Masalah terbesar bukanlah karena informasi terlalu banyak. Masalah terbesar adalah karena kebijaksanaan tidak tumbuh secepat informasi.
Kita hidup pada zaman ketika manusia dapat mengetahui hampir segala sesuatu, tetapi semakin kesulitan memahami mana yang pantas dan mana yang tidak. Kita memiliki akses kepada jutaan data, tetapi mengalami kelangkaan hikmah.
Para ulama sejak dahulu telah mengingatkan hal ini.
لَيْسَ الْعِلْمُ بِكَثْرَةِ الرِّوَايَةِ، وَلَكِنَّ الْعِلْمَ نُورٌ يَقْذِفُهُ اللهُ فِي الْقَلْبِ
“Ilmu bukanlah banyaknya riwayat dan informasi, melainkan cahaya yang Allah lemparkan ke dalam hati.”
Kalimat itu terasa begitu relevan pada zaman ketika manusia mampu menyimpan ribuan buku di dalam satu perangkat, tetapi sering kehilangan kemampuan membedakan yang benar dan yang salah.
Dalam tradisi Islam, ilmu tidak pernah dipisahkan dari adab. Bahkan para ulama sering kali menempatkan adab sebelum ilmu.
نحْنُ إِلَى قَلِيلٍ مِنَ الْأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيرٍ مِنَ الْعِلْمِ
“Kita lebih membutuhkan sedikit adab daripada banyak ilmu.”
Betapa tajamnya nasihat ini untuk zaman kita. Anak-anak hari ini mungkin mengetahui teknologi yang tidak dipahami orang tuanya. Mereka mampu menjelajahi dunia melalui layar kecil di genggaman tangan. Namun semua itu dapat kehilangan keberkahannya ketika tidak diiringi dengan adab, tanggung jawab, dan kesadaran moral.
Sebab algoritma mampu menyampaikan informasi, tetapi tidak mampu menjadi teladan. Ia dapat menunjukkan jalan, tetapi tidak dapat membimbing hati. Ia dapat menjawab pertanyaan, tetapi tidak dapat menanamkan hikmah. Ia mampu menghubungkan manusia dengan seluruh dunia, tetapi tidak mampu menghubungkan manusia dengan nuraninya.
Namun demikian, kegelisahan terhadap pengaruh teknologi tidak boleh membuat kita terjebak dalam romantisme masa lalu. Kita tidak mungkin membesarkan anak-anak abad ke-21 dengan cara berpikir abad sebelumnya.
Sebuah hikmah yang masyhur dari Ali bin Abi Thalib mengingatkan:
لَا تَقْسِرُوا أَوْلَادَكُمْ عَلَى آدَابِكُمْ، فَإِنَّهُمْ مَخْلُوقُونَ لِزَمَانٍ غَيْرِ زَمَانِكُمْ
“Janganlah kalian memaksa anak-anak kalian mengikuti seluruh adat dan kebiasaan kalian, karena mereka diciptakan untuk zaman yang berbeda dari zaman kalian.”
Hikmah ini tidak mengajarkan kita untuk menyerah kepada perubahan zaman, melainkan mengajarkan kebijaksanaan dalam menghadapinya. Anak-anak kita memang lahir di zaman algoritma, kecerdasan buatan (AI), dan banjir informasi. Mereka harus memahami dunia yang akan mereka hadapi. Namun pemahaman terhadap zaman tidak boleh membuat mereka kehilangan kompas moral yang membimbing langkahnya. Karena itu, tugas orang tua dan guru bukan menjauhkan anak dari zamannya, melainkan memastikan bahwa mereka memasuki zamannya dengan bekal iman, adab, dan hikmah.
Atas dasar itulah, solusi atas kemerosotan moral bukanlah memusuhi teknologi. Menolak teknologi sama mustahilnya dengan menolak datangnya pagi. Dunia telah berubah dan akan terus berubah.
Yang harus dilakukan adalah memperkuat kembali benteng-benteng karakter yang mulai rapuh.
Keluarga harus kembali menjadi sekolah pertama yang sesungguhnya. Orang tua tidak cukup hanya menyediakan kebutuhan materi, tetapi juga harus menyediakan waktu, perhatian, dan keteladanan. Sekolah harus lebih dari sekadar tempat mengejar nilai akademik; ia harus menjadi ruang pembentukan akhlak. Pesantren dan majelis ilmu harus terus menanamkan nilai-nilai yang menjaga manusia tetap manusia di tengah derasnya arus digital.
Allah mengingatkan bahwa pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya akan dimintai pertanggungjawaban. Ayat ini terasa begitu dekat dengan kehidupan modern. Sebab hampir setiap hari kita memilih apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, dan apa yang kita biarkan menetap di dalam hati.
Mungkin karena itulah orang-orang tua Aceh dahulu begitu menekankan penghormatan kepada ayah, ibu, dan guru. Mereka memahami bahwa peradaban tidak dibangun oleh kecanggihan alat, melainkan oleh kualitas manusia. Teknologi boleh berubah dari masa ke masa, tetapi kebutuhan manusia terhadap teladan tidak pernah berubah.
Di tengah derasnya arus informasi dan semakin kuatnya pengaruh algoritma, falsafah itu terasa semakin relevan:
Poma dengon ayah, keu lhee dengon guree…
Sebab ketika penghormatan kepada orang tua mulai memudar, ketika kewibawaan guru mulai dipertanyakan, dan ketika nasihat keluarga kalah bersaing dengan suara layar, sesungguhnya yang sedang terancam bukan sekadar tradisi, melainkan fondasi karakter sebuah generasi.
Anak-anak kita boleh mengenal dunia melalui teknologi. Mereka boleh memanfaatkan kecerdasan buatan, menjelajahi samudra informasi, dan hidup di tengah peradaban digital yang terus berkembang. Namun mereka tetap harus belajar tentang adab dari ayah dan ibunya, tentang ilmu dari gurunya, dan tentang hikmah dari agamanya.
Sebab pada akhirnya, yang akan menyelamatkan peradaban bukanlah kecepatan informasi, melainkan kualitas karakter manusia yang menggunakannya.
Jika rumah-rumah berhenti bercerita, jika guru-guru berhenti menjadi teladan, dan jika orang tua menyerahkan seluruh ruang pengasuhan kepada layar, maka suatu hari kita akan menyaksikan generasi yang sangat cerdas tetapi kehilangan arah; sangat terhubung tetapi kesepian; sangat kaya informasi tetapi miskin hikmah.
Dan ketika hari itu tiba, kita akan menyadari bahwa yang sedang mengalami krisis bukanlah teknologi, melainkan manusia yang lupa mendidik anak-anaknya sendiri.
*Penulis: Dosen Hukum Keluarga Islam (HKI) STISNU Aceh






























