Jakarta, 1 Mei 2026 – Amerika Serikat (AS) tengah mengupayakan dukungan internasional untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz yang terganggu akibat konflik dengan Iran. Langkah ini diambil di tengah lonjakan tajam harga minyak global yang dipicu kekhawatiran gangguan pasokan energi dunia.
Menurut laporan Reuters, pemerintah AS mendorong pembentukan koalisi internasional guna memastikan keamanan pelayaran di selat tersebut, yang selama ini menjadi jalur vital bagi sekitar 20% distribusi minyak dan gas dunia.
Ketegangan meningkat setelah konflik antara AS, Israel, dan Iran memasuki bulan kedua. Iran diketahui masih memblokir akses Selat Hormuz sebagai respons terhadap tekanan militer dan ekonomi dari Washington.
Situasi ini langsung berdampak pada pasar energi global. Harga minyak mentah Brent sempat melonjak di atas 125 dolar AS per barel—level tertinggi dalam lebih dari empat tahun—sebelum mengalami sedikit koreksi.
Kenaikan harga tersebut mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan berkepanjangan dari kawasan Timur Tengah. Sejak awal tahun, harga minyak bahkan dilaporkan telah meningkat signifikan dan memicu tekanan inflasi di berbagai negara.
Presiden AS, Donald Trump, dilaporkan sedang mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk langkah militer lanjutan, untuk menekan Iran agar kembali ke meja perundingan. Di sisi lain, Iran memperingatkan akan melakukan serangan balasan jika tekanan terus meningkat.
Upaya diplomasi masih berlangsung, termasuk melalui mediasi negara lain, namun hingga kini belum menunjukkan hasil signifikan. Sementara itu, ketidakpastian di Selat Hormuz terus menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi global, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada impor energi.
































