Dunia-Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat menyetujui rancangan undang-undang yang berisi bantuan baru untuk Ukraina serta sanksi tambahan terhadap Rusia. Keputusan tersebut dinilai sebagai pukulan politik terbaru bagi Presiden Donald Trump karena menunjukkan adanya perlawanan dari sebagian anggota Partai Republik terhadap kebijakan Gedung Putih terkait perang Rusia-Ukraina.
Dalam pemungutan suara yang berlangsung pada Kamis (4/6) waktu setempat, RUU bertajuk Ukraine Support Act lolos dengan dukungan 226 suara berbanding 195 suara. Sebanyak 18 anggota Partai Republik dan satu anggota independen bergabung dengan Demokrat untuk mendukung pengesahan beleid tersebut.
Paket legislasi tersebut mencakup lebih dari US$1 miliar bantuan bagi Ukraina, fasilitas pinjaman hingga US$8 miliar, serta dukungan untuk proses rekonstruksi pascaperang. Selain itu, RUU tersebut juga mengatur sanksi yang lebih ketat terhadap sektor keuangan, energi, pertambangan, dan sejumlah pejabat Rusia.
Pengesahan di DPR menjadi sinyal bahwa dukungan terhadap Ukraina masih cukup kuat di Kongres AS, meskipun pemerintahan Trump sejak awal 2025 cenderung memperlambat aliran bantuan dan mempertahankan kendali penuh atas kebijakan sanksi terhadap Rusia.
Meski telah lolos di DPR, masa depan RUU tersebut masih menghadapi tantangan. Untuk menjadi undang-undang, rancangan itu harus mendapatkan persetujuan Senat yang saat ini dikuasai Partai Republik. Sejumlah pemimpin Senat sebelumnya menyatakan akan menunggu arahan Trump sebelum membawa rancangan sanksi Rusia ke tahap pemungutan suara.
Apabila nantinya disetujui Senat, RUU tersebut juga berpotensi menghadapi veto dari Presiden Trump. Situasi ini mencerminkan perbedaan pandangan yang semakin terlihat di kalangan Partai Republik terkait dukungan terhadap Ukraina dan strategi menghadapi Rusia.
Perkembangan ini terjadi ketika perang Rusia-Ukraina masih berlangsung intens. Upaya perundingan damai belum menghasilkan terobosan berarti, sementara serangan rudal dan drone dari kedua belah pihak terus berlanjut di berbagai wilayah konflik.






























