Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan tajam dan sempat menembus level psikologis Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pekan ini. Pelemahan tersebut memicu kekhawatiran terhadap kenaikan harga barang impor, biaya produksi industri, hingga kebutuhan pokok masyarakat.
Berdasarkan data perdagangan Bloomberg pada Selasa (12/5/2026), rupiah tercatat melemah hingga ke level Rp17.503 per dolar AS. Posisi tersebut menjadi salah satu titik terlemah rupiah sepanjang 2026 di tengah meningkatnya tekanan global dan penguatan dolar AS.
Pengamat ekonomi menilai pelemahan rupiah berpotensi memicu imported inflation atau inflasi impor, yakni kenaikan harga barang akibat biaya impor yang semakin mahal. Kondisi ini diperkirakan akan berdampak langsung pada harga produk elektronik, bahan baku industri, hingga komoditas pangan yang masih bergantung pada impor.
Sejumlah pedagang elektronik di Jakarta mulai mengakui adanya kenaikan harga produk seperti televisi dan pendingin ruangan (AC). Penyesuaian harga disebut berkisar antara 2% hingga 5% akibat naiknya biaya distribusi dan impor komponen berbasis dolar AS.
Selain sektor konsumsi, pelemahan rupiah juga dinilai akan memberi tekanan terhadap anggaran negara, khususnya subsidi energi. Indonesia yang masih mengimpor sebagian kebutuhan energi membutuhkan lebih banyak dolar AS untuk pembelian minyak dan BBM, sehingga berpotensi meningkatkan beban subsidi pemerintah.
Di sisi lain, utang luar negeri pemerintah dan korporasi juga menjadi lebih mahal dalam denominasi rupiah. Kenaikan pembayaran pokok dan bunga utang diperkirakan dapat mengurangi ruang fiskal pemerintah untuk sektor lain seperti pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial.
Pelemahan rupiah kali ini dipengaruhi berbagai faktor eksternal, mulai dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah, lonjakan harga minyak dunia, hingga ekspektasi suku bunga tinggi Bank Sentral AS (The Fed) yang diperkirakan bertahan lebih lama.
Meski demikian, sejumlah ekonom menilai kondisi saat ini belum mengarah pada krisis moneter seperti 1998 karena fundamental ekonomi domestik masih relatif terjaga. Namun, pemerintah dan Bank Indonesia tetap diminta waspada agar pelemahan rupiah tidak berlarut dan memicu tekanan ekonomi yang lebih luas.




























