Banda Aceh-Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Aceh, Tgk. Dr. MuhammadYasir, MA. menyampaikan keprihatinan mendalam atas rangkaian bencana yang melanda wilayah Sumatra dalam beberapa pekan terakhir, mulai dari banjir besar, longsor, hingga putusnya akses vital antar daerah yang menyebabkan lumpuhnya aktivitas sosial, pendidikan, dan ekonomi masyarakat.
Dalam pernyataannya, Ketua STISNU Aceh mendesak Presiden Republik Indonesia untuk menetapkan bencana di wilayah Sumatra sebagai Bencana Nasional. Penetapan ini dinilai sangat mendesak mengingat besarnya dampak kerusakan, luasnya wilayah terdampak, serta keterbatasan kemampuan pemerintah daerah dalam melakukan pemulihan secara cepat dan komprehensif.
“Skala kerusakan dan penderitaan masyarakat telah melampaui kapasitas penanganan di tingkat daerah. Negara harus hadir secara penuh. Penetapan sebagai Bencana Nasional bukan hanya simbol, tetapi langkah teknis agar mobilisasi anggaran, personel, dan peralatan dapat dilakukan secara lebih cepat, terkoordinasi, dan tepat sasaran,” tegas Ketua STISNU Aceh.
STISNU Aceh juga mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya lembaga-lembaga pendidikan dan keagamaan, untuk memperkuat solidaritas kemanusiaan dengan menggalang bantuan, membuka pos-pos peduli, serta menghidupkan kembali budaya gotong royong sebagai nilai luhur bangsa.
Selain itu, STISNU Aceh menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terkait mitigasi bencana dan tata kelola lingkungan, agar bencana serupa dapat diminimalkan di masa mendatang. Pendidikan kebencanaan perlu kembali menjadi bagian integral dari kurikulum dan pembinaan masyarakat.
Kami berharap pemerintah pusat merespons cepat kondisi darurat ini demi keselamatan dan masa depan warga Sumatra yang sedang berjuang memulihkan kehidupan mereka.







































