Rumohdata. Negara-negara Asia Tenggara bersiap memperkuat ketahanan energi kawasan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat. Isu ini akan menjadi fokus utama dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Cebu, Filipina, pada 7–8 Mei 2026.
Krisis yang dipicu konflik di Timur Tengah dinilai berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi global, termasuk ke kawasan ASEAN. Oleh karena itu, para pemimpin negara anggota berupaya merumuskan langkah bersama guna mengantisipasi dampaknya.
ASEAN menilai pendekatan kolektif menjadi kunci untuk meredam risiko gejolak energi. Upaya ini mencakup penguatan koordinasi antarnegara, penyusunan strategi mitigasi, hingga menjaga stabilitas harga dan pasokan energi di kawasan.
Selain energi, pembahasan juga akan mencakup ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi regional yang ikut terimbas konflik global. Pemerintah negara anggota menilai eskalasi di Timur Tengah dapat memicu gangguan rantai pasok serta tekanan harga komoditas.
Indonesia sebagai salah satu motor penggerak ASEAN memiliki kepentingan besar dalam menjaga stabilitas kawasan. Pemerintah mendorong agar hasil KTT menghasilkan langkah konkret yang mampu memperkuat kesiapan regional menghadapi guncangan global.
Dengan meningkatnya ketidakpastian global, ASEAN berupaya memastikan kawasan tetap tangguh melalui kerja sama yang lebih erat. KTT Cebu diharapkan menjadi momentum penting untuk memperkuat solidaritas regional dalam menghadapi potensi krisis energi.




























