BANGKOK/PHNOM PENH – Langit perbatasan Thailand-Kamboja kembali memerah pada Senin (8/12/2025). Hanya dua bulan setelah Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim membanggakan kesepakatan damai di Kuala Lumpur, realitas di lapangan berkata lain. Angkatan Udara Thailand melancarkan serangan udara (airstrikes) ke posisi militer Kamboja, menandai eskalasi paling serius sejak konflik Juli lalu.
Langkah agresif ini secara efektif mengakhiri gencatan senjata yang sebelumnya digadang-gadang sebagai kemenangan diplomatik Washington di Asia Tenggara.
Kronologi Eskalasi: Dari Ranjau Darat hingga Bom Udara
Militer Thailand mengonfirmasi serangan udara tersebut sebagai respons “pembalasan” setelah satu tentara mereka tewas dan empat lainnya terluka akibat serangan artileri dan mortir di Provinsi Ubon Ratchathani pada Senin dini hari. Juru bicara Angkatan Darat Thailand, Mayjen Winthai Suvaree, menyatakan serangan udara ditargetkan pada “posisi pendukung senjata” di dekat Celah Chong An Ma.
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Kamboja membantah melakukan provokasi. Phnom Penh menuduh Bangkok melancarkan serangan fajar tanpa alasan dan menegaskan pasukan mereka tidak membalas tembakan pada fase awal serangan, serta menyebut tindakan Thailand sebagai pelanggaran berat terhadap deklarasi damai Oktober.
Runtuhnya Diplomasi Trump
Eskalasi ini menjadi pukulan telak bagi kredibilitas diplomatik Presiden Donald Trump di kawasan. Pada 26 Oktober 2025, Trump—didampingi PM Anwar Ibrahim—menyaksikan penandatanganan kesepakatan damai yang diperluas antara kedua negara. Saat itu, kesepakatan ini dipuji sebagai langkah monumental untuk mengakhiri sengketa perbatasan yang telah menewaskan puluhan orang pada konflik lima hari di bulan Juli 2025.
Namun, “perdamaian kertas” itu mulai sobek sejak November. Thailand menangguhkan implementasi kesepakatan setelah sejumlah tentaranya terluka akibat ledakan ranjau darat, yang mereka klaim baru saja ditanam oleh pihak Kamboja. Insiden ranjau ini menjadi pemicu efek domino yang berujung pada serangan udara hari ini.
Dampak Kemanusiaan: Eksodus Massal
Konflik elit dan militer ini kembali membebankan harga mahal pada warga sipil.
- Evakuasi: Militer Thailand melaporkan telah mengevakuasi lebih dari 35.000 warga sipil ke tempat penampungan sementara.
- Total Terdampak: Secara keseluruhan, diperkirakan lebih dari 385.000 warga di empat distrik perbatasan berada dalam zona merah dan berisiko harus mengungsi.
- Korban Jiwa: Selain korban militer terbaru, konflik Juli lalu telah merenggut setidaknya 48 nyawa.
Akar Masalah: Peta Kolonial 1907
Di balik diplomasi modern, konflik ini berakar pada sengketa sejarah berusia satu abad. Garis perbatasan sepanjang 817 km yang memisahkan kedua negara masih menyisakan titik-titik undemarcated (belum disepakati), terutama di sekitar kuil kuno Preah Vihear. Peta yang dibuat oleh kolonial Prancis pada 1907 menempatkan area tertentu di wilayah Kamboja, sesuatu yang kerap ditolak oleh kaum nasionalis dan militer Thailand.
Analisis Rumoh Data: Apa Selanjutnya?
Kembalinya serangan udara menunjukkan bahwa mekanisme penyelesaian konflik bilateral—bahkan dengan dukungan “penjamin” sekelas Presiden AS—gagal menyentuh akar sengketa teritorial. Tanpa demarkasi batas yang jelas dan disepakati kedua belah pihak, gencatan senjata hanyalah jeda istirahat sebelum peluru berikutnya ditembakkan.
Bagi ASEAN, ini adalah ujian berat di tengah upaya menjaga sentralitas kawasan. Kegagalan menahan eskalasi antara dua anggotanya sendiri, meski sudah ada intervensi eksternal (AS), menunjukkan rapuhnya arsitektur keamanan regional saat ini.
Sumber: Reuters, AP, Analisis Data Konflik Regional.








































