Banda Aceh, [01-06-2025] – Rumoh Data hari ini menganalisis pergeseran signifikan dalam lanskap bisnis Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Indonesia menyusul keputusan PT Shell Indonesia untuk mengalihkan kepemilikan mayoritas bisnis SPBU mereka. Berdasarkan infografis yang dirilis oleh Katadata.co.id, langkah ini menandai era baru bagi Shell di Indonesia, dengan fokus yang beralih ke bisnis pelumas.
Menurut infografis “Juragan Baru Bisnis SPBU Shell” dari Katadata.co.id yang diterbitkan pada Mei 2025, PT Shell Indonesia telah mengalihkan kepemilikan seluruh bisnis SPBU mereka kepada joint venture Citadel Pacific Limited dan Sefas Group. Sebelumnya, Shell Indonesia adalah perusahaan migas asal Inggris yang telah menjalankan bisnis SPBU di Indonesia sejak tahun 2006, tersebar di Jakarta, Jawa Barat, Banten, dan Jawa Timur, serta memiliki terminal penyimpanan bahan bakar di Gresik, Jawa Timur.
“Keputusan Shell untuk divestasi saham mayoritas bisnis SPBU-nya ini adalah langkah strategis yang patut dicermati,” ujar [Nama Analis, jika ada posisi fiktif], Kepala Tim Analis Sektor Energi Rumoh Data. “Ini menunjukkan adanya upaya restrukturisasi portofolio bisnis global Shell, di mana mereka memilih untuk lebih mengonsentrasikan diri pada sektor yang dianggap memiliki potensi pertumbuhan lebih besar atau sinergi yang lebih kuat dengan bisnis inti mereka.”
Katadata.co.id mencatat bahwa pasca-divestasi, kepemilikan SPBU Shell di Indonesia akan berada di tangan Citadel Pacific Limited asal Filipina, yang akan memegang lisensi merek Shell di Filipina, Rep. Palau, Makau, dan Hong Kong, serta membeli unit bisnis LPG Shell di Filipina dan LPG ExxonMobil di Hong Kong dan Makau. Sementara itu, Sefas Group, yang merupakan perusahaan Indonesia, akan berperan sebagai distributor pelumas industri dan kelautan Shell di Indonesia.
Infografis Katadata.co.id juga menampilkan estimasi jumlah SPBU di Indonesia per 2024. Disebutkan bahwa Pertamina memiliki jumlah SPBU terbanyak dengan 7.868 unit, diikuti oleh Shell dengan 215 unit, BP dengan 51 unit, dan Vivo dengan 18 unit (tidak termasuk SPBU Mini).
“Data ini menunjukkan bahwa meskipun jumlah SPBU Shell relatif kecil dibandingkan Pertamina, divestasi ini tetap mengubah peta persaingan di pasar ritel BBM,” tambahnya. “Rumoh Data akan terus memantau bagaimana pergeseran ini akan memengaruhi konsumen, pasokan BBM, dan dinamika persaingan antaroperator SPBU di Indonesia, terutama dengan adanya pemain baru yang memegang kendali atas merek Shell.”
Perubahan fokus Shell ke bisnis pelumas diperkirakan akan memperkuat posisi mereka di segmen tersebut, mengingat potensi pasar pelumas yang stabil dan terus berkembang seiring pertumbuhan sektor industri dan otomotif di Indonesia.









































