I. Ringkasan Eksekutif: Keunggulan Kompetitif Abadi BCA
Sejarah PT Bank Central Asia Tbk (BCA) merupakan studi kasus yang luar biasa mengenai ketahanan institusi, transisi kepemimpinan, dan dominasi strategis di sektor perbankan. Evolusi BCA didefinisikan oleh tiga poros struktural utama: pertama, tertanamnya secara politik dalam konglomerasi (periode pra-1998); kedua, pemurnian yang diamanatkan negara (Krisis Moneter 1998–2002); dan ketiga, kepemimpinan institusional yang stabil dan berfokus pada teknologi (pasca-2002).
Saat ini, BCA tidak hanya memegang status sebagai bank swasta terbesar di Indonesia berdasarkan total aset, tetapi juga bank dengan kapitalisasi pasar tertinggi. Pada Kuartal IV 2024, total aset BCA tercatat sebesar IDR 1.449,3 triliun.1 Keunggulan kompetitif utamanya terletak pada rasio
Current Account Savings Account (CASA) yang luar biasa, secara konsisten menyumbang lebih dari 80% dari total dana pihak ketiga.2 Rasio CASA yang tinggi ini secara fundamental meminimalkan biaya pendanaan bank, memberikan margin superior dan keunggulan struktural abadi dibandingkan pesaing.
Keunggulan jangka panjang BCA tidak hanya didorong oleh adopsi teknologi yang agresif, tetapi juga oleh pencapaian dividen kepercayaan yang tak tertandingi pasca-1998. Keruntuhan BCA selama krisis diakibatkan oleh keterikatan yang terlalu erat dengan patronase politik. Proses restrukturisasi yang berhasil dan transparan oleh BPPN secara paksa memutus keterikatan tersebut. Transisi kepemilikan yang stabil ke Keluarga Hartono kemudian memungkinkan BCA membangun kembali kepercayaan publik, yang secara langsung tercermin dalam rasio CASA yang tinggi. Kepercayaan pasar inilah yang menjadi sumber stabilitas dan profitabilitas BCA yang berkelanjutan.
II. Genesis Raksasa Perbankan: Ekonomi Politik dan Inovasi Awal (1957–1997)
A. Akar Pendirian dan Patronase Korporasi
BCA didirikan pada tanggal 21 Februari 1957. Awalnya, cikal bakal perusahaan ini bermula dari NV Perseroan Dagang dan Industrie Semarang Knitting Factory yang berdiri sejak tahun 1955.3 Kepemilikan awal bank ini dimiliki oleh keluarga Sumarno.3
Transformasi signifikan terjadi ketika kendali beralih kepada Sudono Salim (Liem Sioe Liong) dan mitranya, termasuk Tan Lip Soin. Sudono Salim dikenal sebagai pendiri dan ketua konglomerat besar, Salim Group, dan memiliki hubungan yang erat dengan Presiden Soeharto dan rezim Orde Baru.5 Peralihan ini menjadikan BCA sebagai jangkar finansial utama bagi Salim Group, yang pada puncaknya menguasai sektor-sektor strategis seperti tepung terigu (melalui monopoli Bogasari) dan semen (Indocement).7 Secara resmi, pada tahun 1970-an, perusahaan ini memiliki nama PT Bank Central Asia (BCA).3
BCA menjalankan peran vital sebagai Bank Devisa, yang melayani transaksi keuangan mata uang asing, sebuah fungsi yang sangat penting bagi aktivitas perdagangan internasional besar-besaran Salim Group.3 Kecepatan ekspansi BCA pada periode pra-1998 secara fundamental didorong oleh patronase politik. Status BCA sebagai Bank Devisa secara langsung memfasilitasi aktivitas impor dan ekspor strategis Salim Group, yang memerlukan transaksi mata uang asing dalam jumlah besar. Akibatnya, kekuatan finansial BCA menjadi terjalin erat dengan stabilitas politik rezim Orde Baru, menciptakan risiko finansial yang terkonsentrasi di dalam satu entitas perbankan.
B. Perintis Teknologi Awal
Di samping pertumbuhan aset yang didorong oleh konglomerasi, BCA secara proaktif berinvestasi dalam efisiensi operasional melalui teknologi. BCA merupakan salah satu bank pertama yang menerapkan sistem online terintegrasi untuk menghubungkan seluruh jaringan kantor cabangnya, yang secara signifikan meningkatkan efisiensi dan standardisasi layanan.3
Sejalan dengan transformasi digital internal ini, BCA memperkenalkan produk inovatif seperti Tabungan Hari Depan (Tahapan) BCA, yang dirancang untuk memberikan solusi perbankan yang efisien dan nyaman bagi nasabah ritel.3 Pada era 1990-an, BCA melangkah lebih jauh dengan mengintensifkan pengembangan jaringan
Automated Teller Machine (ATM). Jaringan ATM ini diperluas secara masif sebagai saluran layanan alternatif, dimulai dengan pemasangan 50 unit ATM pada tahun 1991.3
BCA juga menjalin kemitraan strategis yang inovatif untuk meningkatkan utilitas ATM, misalnya dengan PT Telkom untuk pembayaran tagihan telepon dan Citibank untuk pembayaran tagihan kartu kredit.3 Langkah ini memposisikan ATM BCA sebagai pusat layanan utilitas yang penting. Investasi ekstensif dalam sistem
online terintegrasi dan jaringan ATM pada tahun 1990-an memberikan keuntungan operasional yang sangat penting. Infrastruktur digital ini tidak hanya mendorong adopsi nasabah dan kebiasaan bertransaksi, tetapi juga menjadi fondasi yang memungkinkan BCA untuk bertransisi secara cepat dan efektif ke layanan internet banking dan mobile banking pasca-krisis, jauh di depan bank-bank pesaing yang kurang siap secara teknologi.
III. Kancah Krisis 1998: Keruntuhan, Intervensi Negara, dan Pembersihan
A. Kegagalan Sistemik dan Kustodian Negara
Krisis Moneter Asia (AFC) pada tahun 1998 memukul BCA dengan keras. Kehilangan kepercayaan publik yang cepat akibat krisis dan keterkaitan bank dengan rezim Orde Baru memicu bank rush (penarikan dana nasabah secara massal) yang serius.3 Situasi ini menyebabkan BCA menghadapi kesulitan likuiditas yang parah.3
Keruntuhan ini memperlihatkan kerentanan langsung model perbankan konglomerat yang terkait dengan patronase politik. Kegagalan BCA bukan semata-mata kegagalan kebijakan pinjaman, tetapi kegagalan struktur tata kelola—ketidakmampuan untuk bertahan hidup dari transisi politik.10 Konsentrasi risiko (utang internal Salim Group) ditambah dengan paparan politik yang tinggi berarti bahwa ketika kekuasaan rezim Orde Baru runtuh, kepercayaan terhadap bank tersebut langsung hilang, membutuhkan intervensi drastis negara.
Karena besarnya dampak sistemik BCA, bank ini segera diambil alih oleh negara (Bank Take Over/BTO) dan ditempatkan di bawah program rekapitalisasi dan restrukturisasi yang dikelola oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).3
B. Mandat BPPN: Restrukturisasi Keuangan dan Konversi Kewajiban
Sebagai bagian dari upaya pemulihan, Pemerintah Indonesia melalui BPPN menguasai 92,8% mayoritas saham BCA.3 Kepemilikan ini diperoleh sebagai imbalan atas bantuan likuiditas yang disalurkan oleh Bank Indonesia selama krisis ekonomi.
Langkah restrukturisasi yang paling penting adalah pembersihan neraca dari utang macet. Kredit yang dimiliki oleh pihak-pihak terkait (entitas Salim Group) secara resmi dialihkan dan dikonversi menjadi Obligasi Pemerintah.3 Manuver ini berhasil membersihkan neraca BCA dari aset-aset non-performing yang beracun, sebuah prasyarat vital untuk mengembalikan kesehatan operasional bank.
Konversi utang menjadi obligasi ini merupakan reformasi struktural yang penting. Pemerintah secara efektif menasionalisasi risiko, memindahkan beban kegagalan konglomerat Salim dari entitas perbankan (BCA) ke negara. Dengan mengganti pinjaman internal berisiko tinggi dengan instrumen utang negara yang aman, BPPN menciptakan aset yang solven dan dapat dipasarkan. Transformasi ini adalah kondisi yang diperlukan untuk keberhasilan privatisasi.
Meskipun proses restrukturisasi, khususnya mengenai kewajiban Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dan penanganan aset pihak terkait, sempat menjadi kontroversi dan banyak disoroti secara politik 11, BCA kemudian menegaskan bahwa obligasi pemerintah senilai IDR 60 triliun yang tercatat di neracanya (sebagai hasil dari pertukaran pinjaman) telah diselesaikan sepenuhnya pada tahun 2009 sesuai dengan hukum yang berlaku.13
IV. Jalan Menuju Privatisasi dan Kepemilikan Institusional Baru
A. Strategi Divestasi Bertahap (2000–2002)
Setelah proses rekapitalisasi selesai pada akhir 1990-an, BPPN menerapkan strategi divestasi bertahap untuk memaksimalkan nilai pemulihan dan memastikan transisi kepemilikan yang terstruktur. Divestasi dilakukan melalui mekanisme pasar publik:
- Penawaran Saham Publik Perdana (IPO) pada tahun 2000: BPPN mendivestasikan 22,5% dari total saham BCA. Hasilnya, kepemilikan negara melalui BPPN turun menjadi 70,3%.3
- Penawaran Publik Kedua (Secondary Public Offering/SPO) pada tahun 2001: Sebanyak 10% dari total saham BCA dijual, yang mengurangi kepemilikan BPPN menjadi 60,3%.3
Fase yang paling penting adalah penjualan strategis pada tahun 2002, di mana 51% saham BCA dijual melalui penempatan pribadi strategis (strategic private placement) kepada FarIndo Investment (Mauritius) Limited.9 FarIndo merupakan perusahaan yang dikendalikan oleh keluarga Hartono (melalui PT Dwimuria Investama Andalan).3
Keputusan yang disengaja untuk menjual 51% saham pengendali kepada satu kelompok institusional yang mapan (Keluarga Hartono/Djarum Group) sangat krusial. Ini memastikan arahan strategis yang terpadu dan tata kelola yang stabil, menghindari pengambilan keputusan yang terfragmentasi yang sering terjadi pada privatisasi pasca-krisis. Tata kelola pasca-krisis menuntut kecepatan dan ketegasan, terutama untuk inovasi teknologi. Penjualan blok pengendali menjamin akuntabilitas dan strategi korporasi yang jelas, yang sangat penting untuk membangun kembali kepercayaan investor dan konsumen.
B. Tata Kelola Pasca-Krisis dan Manajemen Risiko
Di bawah kepemilikan baru, BCA menunjukkan komitmen kuat terhadap mitigasi risiko operasional, sebuah pembelajaran langsung dari kegagalan likuiditas tahun 1998. Sebuah investasi strategis yang penting adalah pembangunan Disaster Recovery Center (DRC) di Singapura.3
Investasi pada DRC di luar negeri menunjukkan strategi operasional yang didasarkan pada hiper-ketahanan dan praktik terbaik internasional. Langkah ini secara strategis mengisolasi BCA dari potensi ketidakstabilan politik atau infrastruktur domestik di masa depan. Dengan menempatkan sistem kritis di luar negeri, BCA mengirimkan sinyal yang kuat kepada investor dan nasabah bahwa stabilitas operasionalnya tidak bergantung pada ketidakpastian domestik, yang pada akhirnya memperkuat reputasinya sebagai bank safe haven dan mengukuhkan “dividen kepercayaan” yang baru diperoleh.
Tabel 1: Restrukturisasi dan Transisi Kepemilikan BCA (1998–2002)
| Tanggal/Tahun | Peristiwa/Tindakan | Pemangku Kepentingan Utama | Saham BPPN (%) |
| 1998 | Krisis Likuiditas Parah (Bank Rush) | Salim Group/BCA | 0% |
| 1999 | Pengambilalihan oleh Pemerintah (BTO) & Rekapitalisasi | Pemerintah (BPPN) | 92.8% 3 |
| 2000 | Penawaran Publik Perdana (IPO) | Divestasi BPPN (22.5%) | 70.3% 3 |
| 2001 | Penawaran Publik Kedua (SPO) | Divestasi BPPN (10%) | 60.3% 3 |
| 2002 | Penempatan Pribadi Strategis (51%) | Keluarga Hartono (FarIndo) | Sisa saham didivestasi bertahap 9 |
V. Menguasai Perbankan Transaksi: Strategi Pasca-Restrukturisasi (2000-an)
A. Mandat Digitalisasi Pertama
Memasuki awal tahun 2000-an, BCA memperkuat posisinya dengan fokus pada perbankan elektronik.3 Bank ini meluncurkan layanan-layanan utama yang menjadi tulang punggung dominasinya di masa depan. Produk utama meliputi
KlikBCA (internet banking) dan m-BCA (mobile banking) 3, serta Debit BCA, Tunai BCA, dan
EDCBIZZ untuk memfasilitasi transaksi pedagang.3
Strategi BCA untuk memprioritaskan perbankan transaksi (transaction banking) (CASA, pembayaran) di atas pertumbuhan kredit yang agresif segera setelah krisis merupakan langkah yang diperhitungkan dan berisiko rendah. Volume transaksi yang tinggi, difasilitasi oleh produk-produk digital ini, menghasilkan basis pendanaan yang besar, stabil, dan berbiaya rendah (CASA), memberikan keunggulan struktural untuk kegiatan penyaluran kredit di kemudian hari. Biaya transaksi lebih stabil dan kurang rentan terhadap gagal bayar sistemik dibandingkan dengan pinjaman korporasi (masalah yang melumpuhkan bank pra-1998). Dengan memaksimalkan kemudahan transaksi (melalui m-BCA), BCA berhasil mengumpulkan dana yang “lengket,” meminimalkan biaya modalnya, dan memaksimalkan profitabilitas.
BCA juga memperluas eksposur bisnisnya dengan memasuki sektor pembiayaan kendaraan melalui anak perusahaannya, BCA Finance.3 Pada tahun 2007, BCA meluncurkan produk-produk penting lainnya yang memperkuat ekosistem transaksinya, termasuk kartu prabayar
Flazz Card dan layanan Weekend Banking.3
B. Lingkaran Umpan Balik Efisiensi Digital
Komitmen berkelanjutan BCA terhadap investasi dalam teknologi informasi (TI) dan saluran digital telah menghasilkan kepadatan transaksional yang masif. Frekuensi transaksi melalui dua layanan mobile banking utama BCA tercatat mencapai 23 miliar transaksi pada Kuartal III 2024.14 BCA juga terus berinovasi, beranjak dari ATM konvensional ke konsep yang lebih baru seperti Video Banking 15, serta meningkatkan upaya pemasaran digital, termasuk kolaborasi konten dengan platform seperti Kumparan, untuk akuisisi dan retensi nasabah, terutama untuk bersaing dengan perusahaan
fintech.16
BCA berhasil membangun benteng digital yang kuat. Teknologi yang unggul dan pengalaman pengguna (User Experience/UX) yang mulus menghasilkan frekuensi transaksi yang tinggi. Frekuensi ini kemudian menghasilkan data masif, yang memungkinkan BCA melakukan iterasi layanan superior dan retensi yang kuat, menghasilkan dominasi berkelanjutan atas basis pendanaan CASA berbiaya rendah. Keunggulan operasional ini bertindak sebagai moat kompetitif yang mendalam dan sulit ditiru oleh pesaing.17
Tabel 2: Tonggak Digital dan Operasional Utama Pasca-Krisis (2000–2007)
| Tahun | Inovasi/Peluncuran Produk | Fungsi Strategis |
| Awal 2000-an | KlikBCA (Internet Banking) | Akses digital dan mobilitas transaksi |
| Awal 2000-an | m-BCA (Mobile Banking) | Kemudahan dan universalitas transaksi |
| Awal 2000-an | Disaster Recovery Center (Singapura) | Ketahanan operasional dan mitigasi risiko |
| Awal 2000-an | Pendirian BCA Finance | Diversifikasi ke pembiayaan kredit kendaraan |
| 2007 | Flazz Card & Weekend Banking | Utilitas pembayaran prabayar dan perluasan ekosistem |
VI. Hegemoni Digital dan Vektor Strategis Masa Depan (2010-an–Saat Ini)
A. Akuisisi Korporasi Bertarget untuk Sinergi Digital
Strategi pertumbuhan BCA pada dekade terakhir telah berfokus pada penguatan digital dan penargetan segmen pasar baru melalui akuisisi yang terencana. Strategi ring-fencing BCA bersifat defensif dan proaktif, dirancang untuk melindungi sektor pertumbuhan di masa depan.
- Akuisisi Bank Royal dan Peluncuran blu: Pada tahun 2019, BCA menyelesaikan akuisisi 100% saham PT Bank Royal Indonesia.9 Bank Royal kemudian diubah model bisnisnya menjadi bank digital untuk bersinergi dengan jaringan digital BCA.9 Pada tahun 2020, entitas ini berganti nama menjadi PT Bank Digital BCA dan meluncurkan aplikasi digital
“blu”.9
Langkah ini secara strategis menciptakan laboratorium digital yang terpisah. Bank blu memungkinkan BCA untuk menangkap segmen pasar yang secara inheren digital (digitally native) dan melakukan prototipe fitur baru dengan cepat tanpa harus mengubah sistem inti BCA, sehingga mengisolasi merek utama dari risiko operasional.18 - Memperkuat Perbankan Syariah: Menjelang akhir 2019, BCA mengakuisisi 100% saham PT Bank Rabobank International Indonesia.3 Setelah proses akuisisi, Rabobank digabungkan ke dalam anak perusahaan BCA yang bergerak di bidang keuangan syariah, yaitu
BCA Syariah, pada tahun 2021.9 Akuisisi ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas BCA dalam pembiayaan syariah, mendiversifikasi paparan regulasi, dan memasuki segmen pasar yang tumbuh signifikan.19 Akuisisi ini memungkinkan BCA untuk menangkap ceruk pasar khusus di mana keahlian inti BCA mungkin kurang berkembang.
B. Valuasi Pasar Saat Ini dan Benteng Keuangan
BCA saat ini terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham BBCA.3 Mayoritas sahamnya dimiliki oleh PT Dwimuria Investama Andalan (Keluarga Hartono).3
Data keuangan Kuartal IV 2024 menunjukkan dominasi kuantitatif BCA:
- Total Aset: IDR 1.449,3 Triliun.1
- Kapitalisasi Pasar: IDR 1.165,5 Triliun (sekitar $74.44 miliar USD), menjadikannya bank swasta dengan kapitalisasi terbesar.1
- Profitabilitas: Laba Bersih IDR 54,8 Triliun, dengan Return on Equity (ROE) yang tinggi sebesar 20,86%.1
BCA secara konsisten diperdagangkan dengan premi valuasi (P/E 21.25x, P/BV 4.43x di Q4 2024).1 Premi valuasi dan kapitalisasi pasar yang tinggi ini adalah bukti bahwa investor menilai BCA bukan hanya berdasarkan pendapatan saat ini, tetapi juga berdasarkan
keamanan dan umur panjang basis depositnya dan benteng transaksionalnya. Premi ini merupakan manifestasi finansial langsung dari dividen kepercayaan yang diperoleh melalui restrukturisasi pasca-krisis yang sukses dan komitmen teguh terhadap keunggulan operasional. Tingkat CASA yang stabil dan tinggi (indikator kepercayaan) secara langsung diterjemahkan menjadi biaya pendanaan yang rendah, memastikan margin dan profitabilitas yang unggul, yang membenarkan valuasi saham yang premium.
Tabel 3: Metrik Keuangan dan Valuasi Komparatif (Kuarta IV 2024)
| Metrik | Nilai (Triliun IDR) | Implikasi Strategis |
| Total Aset | 1.449,3 | Status Bank Swasta Terbesar di Indonesia 1 |
| Kapitalisasi Pasar | 1.165,5 | Premi kepercayaan investor dan dominasi pasar 1 |
| Laba Bersih (Tahunan) | 54,8 | Profitabilitas yang tinggi dan berkelanjutan 1 |
| Rasio CASA | >80% dari total dana | Basis pendanaan berbiaya rendah dan “lengket” 2 |
| Return on Equity (ROE) | 20,86% | Efisiensi modal yang luar biasa 1 |
VII. Kesimpulan: Pelajaran dalam Ketahanan Krisis dan Dominasi Berkelanjutan
Transformasi BCA merupakan pelajaran penting dalam pemulihan finansial dan restrukturisasi institusional. BCA berhasil melewati keruntuhan struktur konglomerat, bertahan dari intervensi negara, dan bangkit di bawah tata kelola baru yang fokus pada ketahanan operasional dan digitalisasi.
Tiga pendorong utama yang menjamin kesuksesan jangka panjang dan dominasi BCA dapat disintesis sebagai berikut:
- Pemisahan Risiko yang Tegas: Tindakan paling penting adalah pemisahan BCA yang dipaksakan dan tegas dari utang politik serta konglomerat melalui konversi utang-ke-obligasi BPPN. Langkah ini memurnikan neraca dan memungkinkan BCA memulai kembali dengan fondasi yang bersih.
- Stabilitas Tata Kelola Institusional: Akuisisi oleh Keluarga Hartono memberikan kepemilikan institusional yang stabil, dengan modal yang kuat dan visi jangka panjang yang mendukung investasi besar dalam infrastruktur dan teknologi, yang vital untuk membangun kembali kepercayaan pasar.
- Komitmen Digital yang Tak Tergoyahkan: Fokus yang tak pernah pudar pada efisiensi transaksi dan keunggulan digital (sejak era ATM hingga m-BCA dan blu) menciptakan keunggulan struktural dalam biaya dan utilitas. Ini memastikan dominasi yang berkelanjutan atas basis deposit CASA berbiaya rendah, yang merupakan sumber margin profit BCA yang superior dan pertahanan utamanya terhadap kompetisi.
BCA bukan hanya bank yang selamat dari krisis; ia adalah bank yang menggunakan krisis sebagai katalis untuk reformasi struktural, beralih dari model yang didorong oleh patronase menjadi model yang didorong oleh kinerja dan keunggulan teknologi. Ketahanan operasional yang mendalam dan kepemimpinan digital yang konsisten telah mengukuhkan BCA sebagai raksasa perbankan transaksi di Indonesia.
Karya yang dikutip
- Financial Statements Full Year 2024 of BBCA – Indo Premier Sekuritas, diakses Oktober 5, 2025, https://www.indopremier.com/ipotnews/newsDetail.php?jdl=Financial%20Statements%20Full%20Year%202024%20of%20BBCA&news_id=458390&group_news=RESEARCHNEWS&news_date=&taging_subtype=&name=&search=&q=&halaman=
- 2024 – BCA, diakses Oktober 5, 2025, https://www.bca.co.id/-/media/Feature/Report/File/S8/Laporan-Tahunan/2025/20250212-BCA-AR-2024_ENG.pdf
- Sejarah BCA: Jejak dan Transformasi Bank Swasta Terbesar di …, diakses Oktober 5, 2025, https://katadata.co.id/ekonopedia/sejarah-ekonomi/67b2ae57b81fc/sejarah-bca-jejak-dan-transformasi-bank-swasta-terbesar-di-indonesia
- Sejarah BCA, diakses Oktober 5, 2025, https://www.bca.co.id/id/tentang-bca/korporasi/Sejarah-BCA
- Previously controlled Indofood and BCA Salim Family (Salim Group) Tree, diakses Oktober 5, 2025, https://familyrootapp.com/blog/previously-controlled-indofood-and-bca-salim-family-salim-group-tree
- BAB 2 GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1 Sejarah Singkat Perusahaan PT Bank Central Asia Tbk didirikan pada tanggal 10 Agustus 1955, d – KC UMN, diakses Oktober 5, 2025, https://kc.umn.ac.id/id/eprint/28562/3/BAB_II.pdf
- The Inspiring Journey of Liem Sioe Liong (Sudono Salim): Founder of Indofood – ChatTube, diakses Oktober 5, 2025, https://chattube.io/summary/entertainment/Fp2lE_fpsbw
- Salim Group – Wikipedia, diakses Oktober 5, 2025, https://en.wikipedia.org/wiki/Salim_Group
- BCA Milestones, diakses Oktober 5, 2025, https://www.bca.co.id/en/tentang-bca/korporasi/Sejarah-BCA
- Salim Group: the immigrant who built an Indonesian empire, from Indomie and BCA Bank to Indofood and Bogasari – BackScoop, diakses Oktober 5, 2025, https://www.backscoop.com/newsletter-posts/salim-group-the-immigrant-who-built-an-indonesian-empire-from-indomie-and-bca-bank-to-indofood-and-bogasari
- Kasus Utang BLBI BCA Mencuat, Ekonom Sarankan Pemerintah Lakukan Ini – IndoPremier, diakses Oktober 5, 2025, https://www.indopremier.com/ipotnews/newsDetail.php?jdl=Kasus_Utang_BLBI_BCA_Mencuat__Ekonom_Sarankan_Pemerintah_Lakukan_Ini_&news_id=472001&group_news=RESEARCHNEWS&news_date=&taging_subtype=BBCA&name=&search=y_general&q=Bank%20Central%20Asia&halaman=1
- BCA Buka Suara Soal Heboh Kasus Utang BLBI & Kejanggalan …, diakses Oktober 5, 2025, https://www.cnbcindonesia.com/market/20250820151701-17-659768/bca-buka-suara-soal-heboh-kasus-utang-blbi-kejanggalan-akuisisi
- Bongkar Dugaan Patgulipat Penjualan BCA, KPK Ditantang Periksa Anthoni Salim dan Budi Hartono – Inilah.com, diakses Oktober 5, 2025, https://www.inilah.com/bongkar-dugaan-patgulipat-penjualan-bca-kpk-ditantang-periksa-anthoni-salim-dan-budi-hartono
- Frekuensi Transaksi Dua Mobile Banking BBCA Capai 23 Miliar di Kuartal III-2024, diakses Oktober 5, 2025, https://www.indopremier.com/ipotnews/newsDetail.php?jdl=Frekuensi%20Transaksi%20Dua%20Mobile%20Banking%20BBCA%20Capai%2023%20Miliar%20di%20Kuartal%20III-2024&news_id=453481&group_news=RESEARCHNEWS&news_date=&taging_subtype=&name=&search=&q=&halaman=
- analisis komparatif penggunaan sistem informasi perbankan antara bank syariah dan bank konvensional – Neliti, diakses Oktober 5, 2025, https://media.neliti.com/media/publications/330532-analisis-komparatif-penggunaan-sistem-in-042742ea.htm
- analisa digital marketing sektor perbankan: perbandingan aplikasi mobile banking livin’ by mandiri dan – JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI, diakses Oktober 5, 2025, https://journal.smartpublisher.id/index.php/jimat/article/download/255/200
- PENGARUH TEKNOLOGI FINANSIAL (FINTECH) TERHADAP STRATEGI PERBANKAN PADA PT. BANK CENTRAL ASIA (BCA) – ResearchGate, diakses Oktober 5, 2025, https://www.researchgate.net/publication/365901549_PENGARUH_TEKNOLOGI_FINANSIAL_FINTECH_TERHADAP_STRATEGI_PERBANKAN_PADA_PT_BANK_CENTRAL_ASIA_BCA
- Kinerja Keuangan BCA Digital Menggembirakan, Laba Bersih Tumbuh Signifikan, diakses Oktober 5, 2025, https://bcadigital.co.id/kinerja-keuangan-bca-digital-menggembirakan-laba-bersih-tumbuh-signifikan
- BCA akan merger Rabobank dengan BCA Syariah? – Indo Premier Sekuritas, diakses Oktober 5, 2025, https://www.indopremier.com/ipotnews/newsDetail.php?jdl=BCA_akan_merger_Rabobank_dengan_BCA_Syariah_&news_id=367010&group_news=RESEARCHNEWS&taging_subtype=PG002&name=&search=y_general&q=,&halaman=1
- BCA to merge Rabobank Indonesia with BCA Syariah following acquisition – Business, diakses Oktober 5, 2025, https://www.thejakartapost.com/news/2020/08/31/bca-to-merge-rabobank-indonesia-with-bca-syariah-following-acquisition.html
- RUPSLB BCA Setujui Akuisisi PT Bank Rabobank International Indonesia, diakses Oktober 5, 2025, https://www.bca.co.id/id/tentang-bca/media-riset/pressroom/siaran-pers/2020/09/29/03/34/rupslb-bca-setujui-akuisisi-pt-bank-rabobank-international-indonesia
- Bank Central Asia (BBCA.JK) – Market capitalization – Companies Market Cap, diakses Oktober 5, 2025, https://companiesmarketcap.com/bank-central-asia/marketcap/






































