Banda Aceh — Pemerintah Arab Saudi dikabarkan menyiapkan delapan unit pesawat sebagai bentuk dukungan terhadap rencana pendirian Aceh Airlines, maskapai yang digagas oleh Muzakir Manaf (Mualem). Langkah ini menjadi sinyal kuat atas keseriusan kerja sama penerbangan antara Aceh dan Arab Saudi dalam memperkuat konektivitas umat Muslim di kawasan Asia Tenggara dan Timur Tengah.
Kabar tersebut muncul setelah pertemuan intensif antara perwakilan Pemerintah Aceh dengan sejumlah otoritas penerbangan dan investor asal Arab Saudi yang tertarik mendukung proyek ini.
“Pihak Arab Saudi menyambut positif ajakan Mualem dan telah menyiapkan delapan pesawat untuk mendukung Aceh Airlines,” ujar salah satu pejabat yang terlibat dalam pertemuan tersebut, dikutip Sabtu (5/10).
Penerbangan Langsung Aceh – Arab Saudi
Melalui kerja sama ini, Aceh Airlines diharapkan dapat melayani penerbangan langsung Banda Aceh – Jeddah tanpa transit di Jakarta atau Kuala Lumpur. Rute tersebut akan menjadi tonggak sejarah baru bagi transportasi udara di Aceh, terutama dalam mendukung keberangkatan jamaah umrah dan haji.
Dengan adanya rute langsung, jamaah asal Aceh dapat menikmati perjalanan yang lebih efisien, hemat waktu, serta biaya yang lebih terjangkau. Selain itu, rencana ini juga membuka peluang bagi wisatawan dan investor Arab Saudi untuk datang langsung ke Aceh.
“Kami ingin menjadikan Aceh sebagai hub penerbangan syariah di kawasan barat Indonesia. Ini bukan hanya tentang bisnis penerbangan, tapi juga diplomasi ekonomi dan budaya,” ungkap Mualem dalam pernyataannya sebelumnya.
Potensi Ekonomi dan Investasi
Selain aspek keagamaan, rencana kerja sama ini diyakini mampu memberikan efek ekonomi berganda. Penerbangan langsung akan memperkuat arus perdagangan, investasi, dan wisata halal. Beberapa pelaku usaha lokal mulai mempersiapkan sektor pendukung seperti penginapan, kuliner, serta logistik penerbangan.
Aceh Airlines sendiri digadang-gadang sebagai maskapai berbasis daerah pertama yang berorientasi pada pelayanan syariah dan keterhubungan langsung dengan Tanah Suci. Pemerintah Aceh bersama sejumlah investor dari Timur Tengah disebut sedang menyiapkan dokumen teknis, perizinan, serta infrastruktur penunjang di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM).
“Kita menyambut baik langkah Mualem karena membuka peluang investasi besar. Ini sejalan dengan semangat Aceh sebagai pintu gerbang dunia Islam di Asia Tenggara,” ujar seorang pengamat ekonomi Aceh, Teuku Faisal.
Tantangan Regulasi dan Infrastruktur
Meski peluangnya besar, sejumlah tantangan tetap menanti. Pemerintah daerah perlu memastikan kesiapan fasilitas bandara, sistem navigasi, keamanan penerbangan, serta mekanisme kerja sama lintas negara sesuai regulasi Kementerian Perhubungan Indonesia dan Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi.
Selain itu, aspek keberlanjutan finansial juga menjadi perhatian utama. Pengadaan pesawat, pelatihan awak kabin, serta pemeliharaan membutuhkan dukungan manajemen profesional dan transparan.
“Keberhasilan proyek ini tergantung pada sinergi antara pemerintah, investor, dan masyarakat. Aceh Airlines harus dikelola dengan sistem bisnis modern, bukan sekadar simbol politik,” kata Faisal menambahkan.
Langkah Selanjutnya
Menurut informasi terakhir, tim teknis dari Arab Saudi dijadwalkan akan berkunjung ke Aceh pada akhir tahun ini untuk meninjau langsung kesiapan fasilitas penerbangan. Sementara itu, Mualem menegaskan bahwa pembentukan Aceh Airlines akan dipercepat dengan melibatkan putra-putri Aceh yang berpengalaman di sektor penerbangan.
“Insya Allah ini bukan mimpi. Kita ingin Aceh memiliki maskapai sendiri yang membawa manfaat bagi rakyat, membuka lapangan kerja, dan memperkuat hubungan dunia Islam,” ujar Mualem optimistis.
Jika berjalan sesuai rencana, penerbangan perdana Aceh Airlines ke Jeddah ditargetkan bisa dimulai pada pertengahan tahun depan. Kehadiran maskapai ini diharapkan menjadi simbol baru kebangkitan ekonomi Aceh sekaligus mempererat hubungan Aceh dan Arab Saudi.







































