NEW YORK – Bursa saham Amerika Serikat (Wall Street) menutup perdagangan dengan pergerakan variatif (mixed) pada penutupan terakhir. Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite yang selama ini berlari kencang, akhirnya tergelincir ke zona merah akibat aksi ambil untung (profit taking) masif yang menyasar sektor teknologi.
Investor tampaknya mulai merealisasikan keuntungan mereka pada saham-saham teknologi raksasa (Big Tech) yang valuasinya dinilai sudah “kepanasan” (overheated). Saham-saham seperti NVIDIA, Apple, dan Microsoft mengalami tekanan jual, menyeret turun indeks Nasdaq yang sarat teknologi.
Sebaliknya, Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) justru mampu bertahan atau bergerak positif, mengindikasikan adanya rotasi sektor. Arus uang berpindah dari saham pertumbuhan (growth stocks) yang berisiko tinggi ke saham-saham siklikal dan defensif (value stocks) yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian ekonomi.
Koreksi di sektor teknologi AS biasanya memberikan sentimen negatif bagi emiten teknologi di dalam negeri (seperti GOTO atau BUKA) pada pembukaan pasar. Namun, rotasi ke saham old economy di Wall Street bisa menjadi katalis positif bagi IHSG yang didominasi oleh perbankan dan energi. Investor domestik disarankan untuk tidak panik, namun tetap waspada terhadap volatilitas jangka pendek.






































