CALIFORNIA/JAKARTA-Sebuah laporan investigasi mengejutkan dari Reuters (15/12/2025) membongkar sisi gelap raksasa teknologi Meta (induk Facebook, Instagram, WhatsApp). Laporan tersebut menuding Meta secara sadar membiarkan merajalelanya iklan penipuan (ad fraud) yang berasal dari China demi mengamankan pendapatan iklan yang bernilai miliaran dolar.
Temuan Utama Investigasi:
- China sebagai Sapi Perah: Pengiklan dari China telah menjadi sumber pendapatan terbesar bagi Meta. Untuk menjaga aliran dana ini, Meta diduga melonggarkan filter keamanan dan standar komunitas mereka terhadap akun-akun bisnis dari negara tersebut.
- Sengaja Diabaikan: Dokumen internal menunjukkan bahwa staf keamanan Meta telah berulang kali memperingatkan eksekutif tentang pola penipuan sistematis (barang palsu, phishing, hingga barang yang tak pernah dikirim), namun peringatan ini diabaikan demi target pertumbuhan revenue.
- Dampak Global & Indonesia: Iklan-iklan ini menargetkan pengguna global, termasuk Indonesia. Pengguna dibombardir dengan iklan barang murah yang ternyata scam, atau tautan judi online (judol) yang menyusup lewat ads.
Analisis untuk Indonesia: Bagi Indonesia, ini adalah alarm bahaya ganda. Pertama, konsumen Indonesia menjadi korban penipuan finansial langsung. Kedua, UMKM lokal “dibunuh” pelan-pelan karena kalah bersaing dengan iklan barang impor murah (yang seringkali kualitas sampah atau penipuan) yang diprioritaskan oleh algoritma Meta karena spending iklan mereka yang masif.






































