BANDA ACEH – Kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Aceh mencatatkan hasil negatif pada bulan Oktober 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh melaporkan bahwa neraca perdagangan provinsi ini mengalami defisit sebesar USD 11,57 juta. Angka ini dipicu oleh penurunan nilai ekspor yang dibarengi dengan lonjakan impor yang signifikan.
Ekspor Terkoreksi, Batu Bara Masih Dominan
Plt Kepala BPS Provinsi Aceh, Tasdik Ilhamudin, mengungkapkan bahwa nilai ekspor barang asal Aceh pada Oktober 2025 tercatat sebesar USD 48,50 juta. Angka ini mengalami penurunan sebesar 3,84 persen jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya (September 2025).
Sektor pertambangan masih menjadi tulang punggung ekspor Aceh. Kelompok komoditas Bahan Bakar Mineral, khususnya batu bara, mendominasi dengan nilai ekspor mencapai USD 30,95 juta.
Adapun tiga negara tujuan ekspor utama Aceh pada periode ini adalah:
- India: USD 39,45 juta (81,35% dari total ekspor), didominasi oleh batu bara dan CPO.
- Jepang: USD 2,98 juta, dengan komoditas utama bahan anyaman nabati dan produk kimia.
- Thailand: USD 2,51 juta, dengan komoditas batu bara serta olahan daging dan ikan.
Impor Melonjak Tajam
Berbanding terbalik dengan ekspor, nilai impor Aceh justru meroket. Pada Oktober 2025, impor tercatat sebesar USD 60,07 juta, naik drastis 26,95 persen dibandingkan September 2025.
Kenaikan ini didorong oleh impor kelompok Bahan Bakar Mineral/Gas yang bernilai USD 42,92 juta. Selebihnya, senilai USD 17,14 juta, merupakan impor komoditas nonmigas seperti pupuk dan bahan kimia anorganik.
Negara asal impor terbesar pada periode ini adalah Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok, yang utamanya memasok gas butana/propana dan kebutuhan industri kimia.
“Neraca perdagangan luar negeri Provinsi Aceh pada Oktober 2025 mengalami defisit sebesar USD 11,57 juta,” tutup Tasdik dalam keterangannya, Senin (1/12).





































