Jakarta — Awan gelap tengah menyelimuti sektor perbankan di pasar saham domestik. Setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan perubahan komposisi indeks unggulan seperti LQ45 dan IDX80, sejumlah saham bank besar resmi terdepak dari daftar tersebut.
Langkah ini memicu kekhawatiran pelaku pasar bahwa kinerja saham perbankan bisa mengalami tekanan lebih dalam dalam beberapa pekan ke depan.
Bank Besar Kehilangan Status “Unggulan”
Salah satu yang paling disorot adalah Bank Syariah Indonesia (BRIS) yang tersingkir dari indeks LQ45. Padahal, selama beberapa kuartal terakhir, BRIS sempat menjadi representasi kuat bagi sektor keuangan syariah nasional.
Selain itu, beberapa bank lain juga mencatat penurunan likuiditas perdagangan, membuat rasio free float mereka tak lagi memenuhi syarat indeks unggulan BEI.
Perubahan ini membuat sebagian dana institusi berbasis indeks (index fund) berpotensi melakukan rebalancing portofolio, yang dapat menambah tekanan jual pada saham-saham bank.
Analis: “Tekanan Jangka Pendek, Tapi Bukan Akhir Cerita”
Menurut sejumlah analis pasar, keluarnya bank-bank besar dari indeks unggulan bukan berarti fundamentalnya memburuk. Namun, efek psikologis terhadap investor tetap signifikan.
“Dalam jangka pendek, saham perbankan akan cenderung sideways atau bahkan terkoreksi ringan. Namun, untuk jangka panjang, prospeknya masih cukup baik, terutama bank dengan ekspansi digital dan efisiensi biaya operasional,” kata Analis Senior MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, dikutip dari Kontan.
Ia menambahkan, sektor perbankan masih berperan penting dalam stabilitas pasar karena memiliki bobot besar dalam pergerakan IHSG. “Investor yang sabar justru bisa memanfaatkan fase tekanan ini untuk melakukan buy on weakness,” ujarnya.
Sentimen Pasar Masih Rentan
Selain faktor perubahan indeks, investor juga menyoroti perlambatan penyaluran kredit dan potensi kenaikan NPL (kredit bermasalah) di sejumlah bank.
Kondisi makroekonomi global — termasuk ekspektasi suku bunga tinggi yang berkepanjangan — membuat pelaku pasar cenderung menahan diri.
Di sisi lain, saham sektor teknologi dan bahan baku justru mulai menarik perhatian investor karena dinilai memiliki momentum pertumbuhan yang lebih tinggi.
Data Simulasi Tren Saham Bank 3 Bulan Terakhir

Grafik di atas menggambarkan simulasi pergerakan harga tiga saham bank besar — BBNI, BMRI, dan BRIS — dalam tiga bulan terakhir. Terlihat tren melemah ringan pada dua bulan pertama sebelum mulai menunjukkan potensi konsolidasi di akhir Oktober 2025.
Prospek ke Depan
Jika tekanan berlanjut hingga kuartal pertama 2026, investor disarankan fokus pada bank dengan rasio likuiditas sehat dan digitalisasi tinggi.
Bank-bank besar seperti BCA dan Mandiri masih dianggap defensive play di tengah ketidakpastian global.








































