Rumohdata.com — Badan Gizi Nasional (BGN) menyimpulkan bahwa kadar nitrit yang berlebih pada sampel makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi penyebab utama keracunan massal yang menimpa siswa di Bandung Barat. Kejadian ini menciptakan keprihatinan serius atas keamanan pangan di lingkup sekolah.
Kronologi Kasus
Pada 23 September 2025, Pemerintah Kabupaten Bandung menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) setelah ratusan siswa dari berbagai sekolah di sejumlah kecamatan (Cipongkor, Parongpong, Lembang, Cisarua) mengalami gejala seperti mual, muntah, dan sesak napas.
Korban kemudian dirawat di puskesmas maupun rumah sakit, dan tim penyidik mengambil sampel sisa makanan untuk diuji.
Temuan Investigasi BGN
Tim Investigasi Independen dari BGN melakukan pemeriksaan menyeluruh, meliputi:
- Wawancara dengan para korban dan dokter yang menangani mereka
- Pemeriksaan pola gejala korban
- Uji mikrobiologi, toksikologi, serta analisis sampel makanan dan sisa dari sekolah dan SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) terkait
Hasilnya:
- Tidak ditemukan bakteri patogen seperti Escherichia coli, Staphylococcus aureus, atau Bacillus cereus.
- Tidak terdeteksi racun sianida, arsen, logam berat, atau pestisida.
- Temuan utama adalah kadar nitrit yang sangat tinggi pada buah melon dan “lotek” (sayur + sambal) dari sampel sekolah.
- Nilai nitrit dalam sampel melon dan lotek: 3,91 mg/L dan 3,54 mg/L — jauh di atas standar aman.
Sebagai perbandingan:
- Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA) menetapkan batas nitrit maksimal dalam air minum sebesar 1 mg/L
- Otoritas kesehatan Kanada menetapkan batas 3 mg/L
Dengan demikian, kadar nitrit dalam makanan korban diduga mencapai hampir empat kali lipat dari batas maksimum menurut EPA.
Menurut BGN, pola gejala korban konsisten dengan keracunan nitrit: 36% korban mengalami keluhan di saluran pencernaan bagian atas (seperti mual, muntah, atau nyeri lambung). Tidak banyak kasus diare, karena mekanisme nitrit bersifat toksik dan perlu proses detoksifikasi di hati sebelum memicu dampak lebih lanjut.
Implikasi & Tantangan Keamanan Pangan Sekolah
Temuan ini memunculkan sejumlah catatan penting:
- Bahan pangan seperti buah dan sayur memang secara alami mengandung nitrit dalam kadar rendah. Namun, proses kontaminasi (misalnya perubahan nitrat ke nitrit oleh bakteri) dapat menaikkan kadar nitrit secara signifikan.
- Mutu penyimpanan, kebersihan dapur, dan kecepatan penyajian sangat menentukan apakah kandungan nitrit bisa meningkat — terutama pada makanan segar dan olahan.
- Pemerintah daerah dan dinas kesehatan serta pendidikan perlu memperketat protokol keamanan pangan sekolah, mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan, distribusi, hingga penyajian di kantin atau program MBG.
BGN menyatakan bahwa kadar nitrit berlebih pada sampel makanan dari program MBG adalah faktor penyebab utama keracunan massal di Bandung Barat. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya pengawasan pangan di sekolah, agar program gizi bagi anak tidak malah menjadi sumber risiko kesehatan.









































