Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan ketangguhan dengan terus menguat di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Fenomena ini menarik perhatian para pelaku pasar, mengingat biasanya pergerakan kedua indikator ekonomi ini berjalan seiringan.
Sentimen Pendorong dari Dalam dan Luar Negeri
Anomali ini didorong oleh beberapa faktor yang memberikan sentimen positif kepada investor. Dari sisi domestik, kepercayaan investor terhadap kemampuan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi dan inflasi menjadi kunci. Selain itu, kebijakan-kebijakan pemerintah baru, termasuk potensi stimulus dan program ekonomi, turut menopang sentimen positif di pasar modal.
Secara global, rencana pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS, The Fed, menjadi sentimen positif yang disambut baik oleh pasar. Suku bunga yang lebih rendah cenderung membuat investor mencari aset yang memberikan imbal hasil lebih tinggi di negara berkembang, termasuk Indonesia. Meskipun begitu, pelemahan rupiah tetap menjadi faktor yang perlu dicermati, sebab hal ini bisa menjadi penekan bagi saham-saham tertentu.
Prospek Pasar di Tengah Kenaikan dan Penurunan
Para analis pasar memiliki pandangan yang bervariasi. Sebagian melihat penguatan IHSG dapat terus berlanjut, bahkan memprediksi indeks bisa menembus level 8.250 atau bahkan 8.560 di akhir tahun. Namun, investor juga harus mewaspadai sentimen negatif dari pasar global dan aksi jual bersih yang dilakukan oleh investor asing.
Pergerakan IHSG yang kuat di tengah fluktuasi Rupiah menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia memiliki ketahanan yang didukung oleh keyakinan investor, baik dari dalam maupun luar negeri.








































